Tilik; Menyikapi Berita

 Penulis: Samsu Wijayanto

======================================


Fenomena ghibah (red: gosip) di masyarakat sangatlah lekat. Gosip di mana pun tempat pasti takkan terlewat. Baik di kota maupun desa. Bahkan tidak hanya dewasa, remaja pun tidak luput dari gosip.


Menyoal gosip, beberapa hari yang lalu warganet Twitter, khususnya dihebohkan oleh sebuah film pendek berjudul "Tilik". Film berdurasi kurang lebih 30 menit ini sukses membuat saya 'melongo'. Film ini diramaikan oleh tokoh utama bernama Bu Tedjo dan Yu Ning. Tokoh Bu Tedjo dalam film tersebut berwatak bawel, provokatif dan kurang selektif dalam berbicara. Tidak peduli di mana, kapan dan dengan siapa dia berbicara. Sedangkan Yu Ning sebaliknya, pendiam, tidak mudah terbawa arus, dan selektif.


Kedua tokoh di atas merepresentasikan kehidupan nyata pada masyarakat Indonesia dalam memandang sebuah berita atau desas-desus. Masyarakat punya pilihan dalam memandang berita. Bisa percaya, bisa juga tidak. Namun, alangkah baiknya, ketika mendapatkan berita, baik di media sosial, media cetak atau televisi tidak boleh kita telan mentah-mentah begitu saja, tanpa penyaringan. Begitu juga desas-desus dari mulut ke mulut, jangan langsung kita amini kebenarannya. Jika masih "katanya", jangan langsung percaya. Selidiki kembali kevalidannya pada yang bersangkutan.


Sosok Bu Tedjo mewakili para pendengar, pembaca, atau penonton yang menelan berita di media sosial secara mentah-mentah. Mereka akan menganggap berita dari internet pasti benar. Alih-alih internet diciptakan oleh orang pintar. Padahal faktanya, tidak sedikit hoaks yang bertebaran di internet. Belum lagi kalau musim "pemilu", berita provokatif yang saling menjatuhkan dan belum tentu kebenarannya selalu berterbangan siang malam.


Sedangkan sosok Yu Ning menggambarkan para pendengar, pembaca, atau penonton yang tidak mudah termakan berita di media. Mereka cenderung diam mengamati dan kalaupun angkat bicara, hanya seperlunya saja untuk mencari kebenaran berita tersebut. Mereka akan mencari berita yang serupa dari berbagai sumber untuk mengetahui keabsahan berita tersebut.


Selain kedua tokoh tersebut, ada tokoh pendukung yaitu Yu Tri dan Yu Sam. Tokoh pendukung ini sama persis dengan gambaran masyarakat Indonesia yang mudah mengeshare berita dan 'ngompor-ngomporin' lainnya. Orang semacam ini biasanya tidak memahami penuh berita tersebut, hanya ikut-ikutan meramaikan. Jika berita itu salah, mereka tidak mau disalahkan. Mereka akan menyalahkan orang awal pembawa berita, yaitu Bu Tedjo.


Setelah usai menonton, penulis tertarik untuk mengetahui siapa sebenarnya sosok Bu Tedjo dalam dunia nyata. Ternyata Bu Tedjo diperankan oleh Siti Fauziah atau akrab dipanggil Ozi. Fakta unik tentang Ozi, dalam dunia nyata (bukan peran) dia justru berwatak seperti Yu Ning. Ozi cenderung kritis dalam menerima berita. Informasi ini penulis dapatkan dari wawancara Chanel YouTube "TVamatir". Tidak hanya itu, Ozi pernah memerankan tokoh si Mbok (pembantu) dari Annelies, kekasih Minke dalam film "Bumi Manusia".


Intinya, berita yang ada di berbagai media tidak bisa kita katakan benar seratus persen. Meskipun internet dibuat oleh orang pintar, berita tetap buatan manusia. Tidak luput dari kesalahan dan kepentingan. Jadi jika ada berita, amatilah dulu. Kemudian lihat pembawa beritanya. Cari berita serupa dari berbagai sumber. Kalau berita itu dekat dengan kita, tanyakan langsung pada yang bersangkutan.


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian


Karawang, 22 Agustus 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit