Konsisten itu Sulit

 Oleh : Samsu Wijayanto


Ada yang bilang menulis itu mengikat kata. Kita bisa mengikat kata dari apa yang kita baca. Bahkan tidak hanya yang kita baca, yang kita lihat, dengar dan rasa pun dapat diabadikan dengan menulis. Memang luar biasa aktivitas menulis ini. Namun tidak semua orang bisa menulis dengan konsisten dan baik. Contohnya saja saya.


Ya, saya belum termasuk dalam golongan konsisten dan baik dalam menulis. Gairah menulis yang saya miliki tiba-tiba hilang dalam sekejap 4 tahun yang lalu hingga kini. Seakan menulis menjadi hal yang sulit, membingungkan dan buntu. Padahal ketika ada senggang saya menulis satu dua kalimat dalam status whatsapp atau instagram. 


Saya akui, tidak seharusnya saya kehilangan gairah menulis yang telah lama saya bangun. Saya patutnya bersyukur dan bisa menjaga semangat dan gairah menulis saya. Karena saya berada dalam sebuah grup menulis yang bernama Sahabat Pena Kita Tulungagung (SPK Tulungagung). Grup ini adalah salah satu grup yang saya masuki dengan penuh perjuangan. 


Awalnya, seorang adik tingkat memberi kabar bahwa dosen favorit mahasiswa/i IAIN Tulungagung (dulu), yaitu prof. Ngainun Naim membuat grup yang aktif di bidang literasi. Akan tetapi masuknya harus sulit. Harus konsisten dalam menulis. Baru bisa masuk menjadi anggota grup tersebut. Akhirnya saya pun sedikit jiper dan mengurungkan niat untuk masuk grup tersebut. Bukan apa-apa, saya takut tidak konsisten dan mengecewakan beliau (seperti sekarang ini saya tidak konsisten seperti dulu). 


Saya pun lupa dengan keinginan masuk grup SPK Tulungagung. Saya sibukkan diri dengan menulis iseng-iseng. Saya menulis di aplikasi facebook, seperti yang saya lakukan dulu saat kuliah. Saya menulis di facebook dengan tema dan pembahasan yang "random". Tanpa ada maksud dan tujuan apapun, yang penting nulis. Eh, salah satu kakak tingkat saya bernama Mas Fahmi dari Kalidawir "notice" dan memasukan saya ke dalam grup SPK. Sontak saya kaget dan bertanya, "kenapa dimasukkan mas? Saya takut tidak bisa konsisten" Dia pun memberi semangat dan support bahwa saya bisa.


Sebagai penutup, saya merasa sudah mengecewakan dua orang berjasa dalam dunia literasi saya. Saya haturkan mohon maaf karena selama beberapa tahun ini tidak maksimal dan bahkan hanya menjadi "silent reader" di grup yang sangat luar biasa ini. Saya pun ucapkan banyak terima kasih atas support dan semangat yang beliau tularkan tanpa lelah dan keluh kesah. Semoga beliau selalu dalam rahmat Allah dan diberi kesehatan. Barakallah. 


Sekian


Karawang, 10 Maret 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia