Tasu'a, 'Asyura dan Sejarahnya
Oleh: Samsu Wijayanto
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang mulia dalam tahun Hijriyah. Saking mulianya, Nabi Muhammad SAW menyuruh kita untuk memperbanyak puasa sunnah, seperti puasa senin-kamis, puasa tanggal 9 dan 10 muharram serta puasa ayyamul bidh (13, 14 dan 15). Sebagaimana yang terdapat dalam hadis Nabi yang berbunyi,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).
Begitu mulia jika kita berpuasa pada Bulan Muharram sehingga Nabi pun menyematkan kata "paling utama" dalam hadisnya. Namun, dari semua puasa yang ada, hanya dua yang dianjurkan oleh Nabi, yaitu puasa Tasu'a dan puasa 'Asyura.
Menyoal kedua puasa ini, kemarin saya berbincang dengan rekan sesama guru, Pak Dwija Rabadi namanya. Beliau pengajar mata pelajaran Bahasa Arab. Beliau satu-satu guru hafidz di sekolah tempat saya mengajar. Tidak hanya itu, suaranya pun merdu saat membaca Al-Qur'an dan berwawasan luas tentang agama dan sejarah Islam. Oleh karena itu, saya mengetahui sejarah Puasa Tasu'a dan 'Asyura dari beliau.
Pada awalnya Nabi hanya menganjurkan puasa 'asyura saja. Namun, ketika Nabi berkumpul bersama para sahabat terlihat kaum Yahudi yang sedang berpuasa. Salah satu sahabat bertanya, "Wahai Nabi, apakah puasa kita tidak menyerupai mereka?" "Apakah mereka berpuasa?", tanya Nabi. Sahabat pun menjawab, "Iya Nabi. Mereka sangat mengagungkan hari ini ('Asyura)".Kemudian Nadi menjawab, "Kalau begitu, apabila tiba tahun depan –insya Allah- kita akan berpuasa pula pada hari ke sembilan." Alasan Nabi memerintahkan puasa karena tidak ingin umat muslim menyerupai umat lain dan Nabi ingin Islam unggul dalam mendekatkan diri kepada Allah. "Fastabiqul Khoirot".
Sejarah ini diabadikan oleh sahabat menjadi dua hadis. Pertama hadis fi'li, yaitu hadis yang bersandar pada perbuatan Nabi, dalam hal ini puasa 'asyura. Hadisnya sebagai berikut
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).
Kedua adalah hadis qouli, yaitu hadis yang bersandar pada ucapan Nabi. Mengapa qouli? Sebab, Nabi tidak melaksanakannya. Nabi telah wafat sebelum Bulan Muharram selanjutnya tiba. Hadisnya sebagai berikut,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
"Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.”
Ibnu Abbas mengatakan,
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)
Hukum melaksanakan Puasa Sunah Tasu'a dan 'Asyura dijelaskan dalam Kitab Syarh Shahih Muslim yakni, "Imam Asy Syafi’i dan Ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari ke sembilan dan ke sepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari ke sembilan." (Lihat Syarh Muslim, 8: 12-13). Sedangkan hukum melaksanakan Puasa 'Asyura saja, tanpa Tasu'a mengalami ikhtilaf (perdebatan). Namun Ibnu Rajab mengatakan, "Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap MAKRUH jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 99)
Begitu mulia dan utamanya bulan Muharram ini. Sungguh disayangkan jika kesempatan yang Allah berikan ini kita sia-siakan. Oleh karena itu, mari berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan yang mulia ini (Muharram).
Sekian
Karawang, 28 Agustus 2020

Komentar
Posting Komentar