Likes; Menulis yang Influence
Penulis: Samsu Wijayanto
=====================================
Jujur hari ini saya kebingungan menentukan tema tulisan. Kebingungan ini saya tanyakan kepada editor. Harapannya mendapat ide cemerlang darinya. Setelah berbincang mengenai aktivitas hari ini, dia menyarankan untuk menulis kejadian yang saya alami hari ini. Ya, semacam curhat begitu karena di rumah sekarang serba sendiri seperti masak, mencuci dan bebersih rumah -karena ibu dan adik-adik saya masih berada di Cilacap-. Setelah saya pikirkan, ada baiknya mengikuti saran darinya. Saya akan menuliskan apa yang saya alami hari ini.
Hari ini, selain ketiga aktivitas di atas saya mendapatkan pelajaran penting dari satu aktivitas, yakni menonton film series di aplikasi pemutar film, Vidio namanya. Saya menonton film series ini setelah ketiga pekerjaan itu selesai. Film ini berjudul "Likes" hanya terdiri dari 6 episode saja. Film ini mengisahkan dua orang perempuan yang haus akan followers dan likes dari sosial media. Keinginan mereka dilatarbelakangi karena ingin mendapatkan popularitas, eksistensi, dan uang dari banyaknya followers dan endorse. Oleh karena itu, mereka rela traveling keliling Sumatra untuk menjelajahi destinasi alam di sana dan menikmati makanan khas di sana serta tidak lupa mengabadikannya di media sosial. Namun, semua keinginan mereka berdua (popularitas, eksistensi, dan uang) berubah total setelah bertemu dengan Diaz.
Siapa itu Diaz?
Diaz merupakan tokoh kunci yang membuat film ini jadi menarik. Diaz adalah relawan yang mengurusi satwa langka yaitu gajah di Way Kambas (sekarang). Diaz ini dulunya seorang selebgram dengan followers yang tidak sedikit. Namun, karena depresi dan perasaan terkekang dia memilih untuk hidup bebas menjadi relawan di Way Kambas bersama ayahnya. Sejak menjadi relawan, dia berhenti total dari sosial media. Dia menutup akun sosial media dan mengganti smartphonenya dengan handphone monophonic (HP jadul). Menurutnya, manusia tidak akan pernah puas jika menuruti hasrat di sosial media. Setiap harinya kita akan melihat orang-orang terkenal memperlihatkan kesuksesan, teman kita memamerkan sesuatu dengan likes dan followers yang banyak. Lalu akan terbersit "gue harus kayak dia. Jika dia bisa, gue pun pasti bisa." Itu rasanya tidak baik untuk hari dan pikiran. Ucapnya kepada Sasti dan Kanya (dua perempuan tokoh utama dalam film ini).
Adanya Diaz dalam perjalanan Sasti dan Kanya, membuat persahabatan mereka sedikit goncang. Mereka berseteru hebat saat keduanya berada pada pilihan antara kembali ke Jakarta (untuk event influencer) atau ke Way Kambas mengantarkan Diaz (untuk menyelamatkan Way Kambas dari kebakaran hutan di sana). Akhirnya Kanya memutuskan untuk pulang sendiri ke Jakarta tanpa Sasti. Lalu Sasti mengantarkan Diaz ke Way Kambas.
Akhir cerita, Sasti yang sedang berada di Way Kambas tidak berhenti memikirkan sahabatnya, Kanya. Dia pun 'curhat' kepada Diaz. Di tengah obrolan mereka, Kanya pun datang dan berubah pikiran tidak jadi pulang ke Jakarta. Di sinilah Kanya mulai berpikir, bahwa menjadi populer, eksis, dan mendapat uang tidak lagi penting. Mereka menganggap orang-orang harus tahu bahwa keadaan di Way Kambas saat itu sedang kritis. Hutan terbakar, banyak polusi dan gajah yang mati. Mereka pun berniat memposting yang terjadi di sana dengan harapan orang-orang bisa melihat dan membantu memulihkan Way Kambas. Sasti memposting artikel di blognya, dan Kanya memposting di instagramnya. Alhasil, usaha mereka sukses besar. Postingan mereka direpost oleh orang lain hingga banyak yang membantu dan Way Kambas pun menjadi hijau.
Kesimpulannya, penulis pun bisa menjadi influence, seperti yang dilakukan oleh Sasti. Melalui blog, dia membuat orang-orang mengetahui sesuatu yang belum mereka tahu dan mengubah yang sebelumnya kurang baik. Menulis semacam ini butuh ketelatenan dan kepekaan terhadap sesuatu yang perlu mendapatkan perhatian. Jadi untuk menjadi influencer yang inspiratif butuh olah kata dan olah rasa.
Sekian
Karawang, 17-08-2020

Komentar
Posting Komentar