Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun
Oleh: Samsu Wijayanto
Kemarin, 30 Juli 2022 bertepatan tanggal 1 Muharram 1444. 1 Muharram merupakan tahun baru hijriyah atau tahun baru Islam. Dimana banyak momen-momen penting pada masa Nabi-nabi terdahulu terjadi pada bulan ini. Begitu juga dalam kehidupan saya saat ini. Kemarin telah diadakan tradisi "ngayun" di rumah orang tua istri (mertua) saya.
Ngayun merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh orang suku sunda di Karawang yang bertujuan untuk memberikan dan mengukuhkan nama seorang bayi yang baru lahir. Pengukuhan ini bisa dilaksanakan satu hari setelah puput puser (puser bayi terlepas), atau bisa juga 7 hari (seminggu) setelah kelahiran bayi. Namun tidak semua orang sunda di Karawang melaksanakannya. Tradisii ini hanya dilaksanakan oleh keluarga yang memegang teguh adat istiadat yang mereka percayai. Berhubung keluarga istri saya asli Sunda, yaitu Karawang maka kami memutuskan untuk melaksanakannya. Apalagi sesepuh dari pihak istri sangat memegang teguh adat, jadi mau tidak mau, seperti menjadi keharusan untuk melakukannya.
Mengapa pengukuhan nama disebut "Ngayun"?
Prosesi pemberian nama dan pengukuhan tersebut diakhiri dengan mengayunkan bayi yang dibuat oleh oleh paraji (dukun beranak) di rumah orang tua bayi. Syarat terlaksana proses adat ini bayi tidak boleh diayun sebelumnya. Baik dengan ayunan yang dibuat sendiri ataupun dengan ayunan modern (dengan besi, alumunium atau mesin). Ayunan yang dipakai Ngayun pun ayunan jaman dahulu. Yakni, ayunan yang dibuat dengan tambang yang diikatkan pada sinjang (kain batik panjang) lalu diberi bantal untuk alas dan di bawah kepala bayi harus berbantalkan sinjang juga. Itulah mengapa disebut Ngayun.
Secara nama dan seremonial memang demikian, namun sebelum acara inti (mengayunkan bayi di ayunan) ada ritual-ritual yang harus dilalui. Ritual-ritualnya sebagai berikut:
Pertama bayi dimandikan dengan air kembang 7 rupa dicampur minyak wangi yang dipakai orang tuanya, harus non-alkohol. Baskom untuk mandi bayi tersebut juga diisi uang receh yang nantinya dibagikan kepada anak-anak sebagai sedekah. Lalu air bekas mandi bayi tersebut disiramkan ke dalam kendi tempat ari-ari bayi dikubur.
Kedua, setelah dimandikan bayi ditawasuli dengan bacaan-bacaan Al-fatihah. Mulai dari al-fatihah kepada para sesepuh pihak ayah dan ibu sampai nama bayi tersebut pun ditawasuli. Dilanjutkan membaca dzikir dan sholawat.
Ketiga, bayi akan digendong oleh paraji dan kaki bayi akan diarahkan untuk menginjak piring berisi beras, kunyit, uang receh dan permen. Masing-masing elemen memiliki arti. Beras yaitu bahan pangan pokok yang akan dimakan oleh bayi nantinya. Diharapkan semasa hidupnya bayi tidak akan kekurangan pangan. Kunyit manifestasi dari emas. Karena kunyit berwarna kuning agak orange. Diharapkan bayi nantinya berhasil mendapatkan masa keemasan dan kejayaannya dalam hidupnya. Uang receh melambangkan kuatnya tekad dalam berusaha dalam mencapai cita-cita. Uang receh sengaja dipilih dalam ritual tersebut sebab uang receh terbuat dari logam. Logam lebih kuat daripada kertas. Terakhir ada permen. Permen yang dipilih permen yang manis. Harapannya bayi selalu diliputi dengan hal-hal manis dan membahagiakan.
Keempat, paraji akan mulai prosesi Ngayun. Sebelum prosesi tersebut paraji melantunkan doa berbahasa Sunda. Kemudian memasang untaian yang diikatkan ke kain samping (untuk menggendong bayi) sebagai upaya simbolis perlindungan akan hal yang bersifat sia-sia serta kejahatan. Untaian tersebut berisi uang kertas (bebas nominalnya), cabe besar, bawang merah, rempah, daun sirih dan terakhir bawang puting satu siung. Selain untaian digantung pula nama bayi yang akan disahkan. Setelah semuanya terpadang, barulah bayi diayun beberapa kali.
Demikianlah rangkaian prosesi Ngayun yang dilakukan oleh masyarakat sunda di Karawang. Tentu masing-masing daerah di Jawa Barat maupun provinsi lain berbeda-beda. Itulah Indonesia dengan sedemikian kayanya tradisi, budaya dan bahasa. Tugas kita sebagai penghuninya adalah melestarikan dan menghargainya.
Sekian
Karawang, 1 Agustus 2022



Komentar
Posting Komentar