Cahaya dari Timur: Beta Maluku; Memahami Perbedaan dan Perjuangan lewat Sepak Bola
Oleh: Samsu Wijayanto
Sore tadi saya dibuat kagum dan terenyuh saat menonton film Cahaya dari Timur, Beta Maluku. Ya, saya akui terlambat menonton film luar biasa ini. Sebab, film ini rilis pada 19 Juni 2014. Meski terlambat, film ini sukses membuat saya berdecak kagum pada sosok Sani Tawainella, seorang tukang ojek yang memberikan perubahan pada Maluku. Sosok Sani diperankan oleh Chicco Jerikho dengan sangat 'apik'. Dengan perannya yang total, dia berhasil membuat saya (mungkin sebagian penonton lain) terbius dan terbakar semangatnya. Jadi bagi pembaca yang (mungkin) kurang semangat mengejar keinginan dan impian, silakan nonton film ini. Oiya, film ini juga mengajarkan kita nilai persatuan dan kesatuan, lho. Nonton deh.
Film ini diawali dengan adegan konflik antar suku disana di tahun 2000 dan pernak-pernik kehidupan Indonesia bagian timur yang indah. Dia (Sani Tawainella) salah satu korban kekacauan akibat konflik suku di sana. Dia menyaksikan langsung betapa tragisnya saat itu. Konflik ini juga terjadi di Tulehu, tempat tinggal Sani. Saat akan terjadi konflik, salah satu warga akan memukul tiang listrik untuk memberitahu warga lain supaya bersiap-siap melakukan penyerangan. Setelah itu, bapak-bapak di sana berbondong-bondong membawa parang. Mirisnya, ketika tiang dipukul tidak hanya bapak-bapak yang beramai-ramai datang. Anak-anakpun ikut serta dibelakangnya untuk menonton kekacauan tersebut. Alhasil tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban dari 'sabetan' parang dan lemparan bom molotov.
Melihat kejadian mengerikan itu, dia mendapatkan ide cemerlang setelah melihat sekumpulan anak usia SD bermain sepak bola di tepi pantai bersama seorang bapak, Pangana namanya. Namun ketika lagi-lagi ketika terdengar dentingan tiang listrik, anak-anak itu bubar dan menghampiri kekacauan. Sani pun mengejar mereka dan menawari mereka berlatih sepak bola dengan syarat ketika ada setingan tiang, mereka tidak boleh bubar dan mendekat pada kekacauan itu. Mereka pun setuju.
Usaha Sani untuk mengurangi korban pun berhasil. Para bapak di sana menganggap Sani aneh. "Ketika ada konflik, malah main bola", kata mereka. Tapi, salah satu ibu warung menegur, "biarlah bapak-bapak ikut kekacauan karena menjaga kampung (suku), dia main bola karena menjaga anak-anak".
Betahun-tahun Sani menjadi pelatih, tentu tidak mulus-mulus saja. Banyak konflik intern yang terjadi, salah satunya saat mendampingi anak didik sepak bolanya ke Jakarta. Di sinilah titik menariknya. Saat dia sukses membawa Maluku kedalam kompetisi sepak bolak Nasional, ternyata ada beberapa pemain yaitu Salim Ohorella (Salembe) yang sangat membenci Fingky dan Fungky. Alasannya ayah dari Fingky dan Fungky adalah polisi. Salembe punya trauma atas itu. Bapaknya tertermbak peluru nyasar dari polisi. Karena kebencian itu, permainan tim pun kacau. Pemainpun saling menyalahkan satu dengan yang lain.
Di tengah panasnya konflik tim, dengan emosi yang menggebu Sani tetap menyemangati dan memotivasi mereka. Dia mengatakan,
"Beta percaya, waktu seng akan cukup par cari sapa yang betul, sapa yang salah. Tapi Beta percaya satu, katong mesti hidup lebih baek". Artinya "Saya percaya, waktu tidak akan pernah cukup untuk mencari siapa yang benar, siapa yang salah. Tapi saya percaya satu, kita harus hidup lebih baik."
Motivasinya ditutup dengan kata-kata yang membuat saya merinding. "Katong seng lai Tulehu, katong seng lai Passo, tapi katong ini Maluku. Beta Maluku. Kita tidak lagi orang Tulehu, kita tidak lagi orang Passo, kita ini orang Maluku. Saya Maluku, begitulah terjemahnya." Setelah itu sontak semuanya berteriak Beta Maluku!
Permainan menjadi lebih baik. Maluku pun masuk final, bertemu musuh awalnya DKI Jakarta. Tapi lagi-lagi tim Maluku mendapat masalah yaitu tim lawan yang kasar dan wasit yang 'berat sebelah'. Mereka pun menyerah. Sani tidak tinggal diam dan kembali memotivasi mereka,
"Kaka Sani suka bilang, katong pu hidup mesti lebih baek. Maksud Kaka Sani itu, katong harus kuat, katong harus satu. Katong harus berdiri terus meski banyak hal yang kasih katong jatuh. Jangan pernah takut kalah. Seng ada yang bisa bikin kantong hancur kalo katong pung satu keinginan par bikin hidup jadi lebih baek", silakan terjemahkan sendiri :)
Akhirnya, berkat kerja keras dan kerja sama tim serta motivasi dari pelatih (Sani) Maluku mendapat juara di kompetisi sepak bola Nasional U-15 tahun 2006. Sejak saat itu hingga Tulehu dijuluki sebagai "Kampung Sepak Bola". Semua berkat seorang tukang ojek bernama Sani Tawainella.
Hikmah yang bisa kita ambil adalah kita adalah Indonesia. Meski kita berasal dari suku yang berbeda, agama yang tak sama, bahasa yang sangat kaya. Kita tetap Indonesia. Sebagai Indonesia kita tidak boleh dihancurkan dan selemahkan oleh kata menyerah. Ingat, pahlawan memerdekakan Negeri ini dengan persatuan dan semangat yang tak bisa dipadamkan.
#Tulisan ini saya persembahkan juga untuk mengenang kakak Glenn Fredly
Sekian
Karawang, 27 Agustus 2020


Komentar
Posting Komentar