Sejarah Pesantren di Indonesia

Oleh: Samsu Wijayanto


Apabila kita berbicara mengenai pesantren di Indonesia khususnya di tanah Jawa, maka tidak akan lepas dari sejarah Jawa sebagai pusat sistem pendidikan pesantren dicanangkan pertama kali di Indonesia. Jika memang benar tanah Jawa itu pusat sistem pendidikan pertama di Indonesia, mari kita buktikan.

Sebelum Indonesia merdeka, telah kita ketahui bahwa Indonesia dipenuhi dengan berbagai macam kerajaan-kerajaan. Kerajaan yang berdiri di tanah Jawa mayoritas beragama hindu. Sehingga tanah Jawa ramai akan budaya, peradaban, keilmuan sampai dengan peperangan. Runtuhnya kerajaan-kerajaan di tanah jawa, sedikit banyak meninggalkan suatu system yang sangat penting yaitu sistem pendidikan pondok pesantren.

Menurut Karel A. Steenberink peneliti asal Belanda berpendapat, bahwa sistem pendidikan pondok pesantren yang berkembang saat ini berasal dari dua tradisi yaitu pertama dari tradisi Hindu dan kedua dari tradisi dunia Islam dan Arab itu sendiri.

Pendapat pertama menyatakan bahwa pesantren berasal dari tradisi Hindu. Pada awal munculnya Islam di Arab, tidak ada sistem pendidikan pondok dimana para pelajar menginap di suatu tempat tertentu disekitar lokasi guru. Pendapat Karel A. Steenberink oleh I. J. Brugman dan K. Meys disimpulkan bahwa tradisi ini sama seperti pesantren yang saat ini berdiri di tanah Jawa.

Pendapat kedua yang menyatakan bahwa sistem pondok pesantren merupakan tradisi Islam. Pernyataan ini dibukti dengan adanya model pendidikan pondokan di zaman Abasiyah. Pendapat lain dikemukakan oleh Muhammad Junus, bahwa model pembelajaran individual seperti sorogan, serta sistem pengajaran yang dimulai dengan belajar tata bahasa Arab ditemukan juga di Bagdad ketika menjadi pusat ibu kota pemerintahan Islam.

Jelas sekali, bahwa sejarah Indonesia dan pendapat yang dikemukakan oleh Karel A. Steenberink dan tokoh-tokoh lain dapat disimpulkan bahwa pesantren dan sistem pendidikannya berasal dari kolaborasi antara tradisi hindu dan tradisi islam. Kolaborasi dari kedua tradisi ini tidak mungkin berkolaborasi dengan sendirinya, melainkan dikolaborasi oleh para wali songo yang berdakwah menyebarluaskan islam di tanah Jawa.

Wali songo yang sangat berjasa dalam menyebarkan islam dan membentuk sistem pendidikan agama islam, yaitu Sunan Maulana Malik Ibrahim yang dikenal dengan julukan Sunan Gresik. Sunan Gresik pertama kali datang ke tanah Jawa dan singgah di desa Leran di Gresik pada tahun 1404 M. Beliau datang ke Gresik untuk menyebarkan dan mendakwahkan agama islam, akan tetapi pendekatan yang beliau gunakan sangatlah unik. Beliau membuka warung sederhana yang menjual berbagai macam makanan dengan harga yang murah, serta beliau membuka praktek pengobatan (dalam bahasa dulu pratek ketabiban) dengan tanpa bayaran. Dari kedermawanan Sunan Gresik inilah banyak warga yang simpati dan kemudian masuk islam.

Orang-orang yang sudah masuk Islam semakin bertambah banyak setiap harinya. Mereka sering sekali menginap untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang agama islam. Sampai akhirnya, rumah beliau tidak mampu untuk menampung sekian banyak murid-muridnya. Sehingga beliau membangunkan rumah atau gubug untuk mereka menginap dan menimba setiap ilmu dari beliau. Dari sinilah cikal bakal dunia pondok pesantren di Indonesia -pengajaran yang menggunakan sistem menginap (mondok).

Dari sejarah singkat pesantren di atas, bahwa Beliau (Sunan Gresik) mengolaborasi sistem pendidikan pesantren antara tradisi hindu yang menginap ditempat gurunya dan tradisi Islam yang menggunakan metode sorogan (individual dalam menimba ilmu pada sang guru). Metode ini pula yang diterapkan dibeberapa pondok pesantren salaf. Metode ini sesungguhnya membangun kedekatan antara guru dan murid. Dari kedekatan itu akan lahir keberkahan yabg akan menguatkan ilmu dan hafalan.

Mudah-mudahan kita termasuk dalam manusia yang dapat melestarikan ilmu, budaya dan agama. Mudah-mudahan bermanfaat.


Sekian


Karawang, 19 Januari 2021 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Konsisten itu Sulit