Memanfaatkan Potensi
Penulis: Samsu Wijayanto
======================================
Setiap orang mempunyai potensi dalam dirinya. Potensi yang dimiliki pun bervariasi tergantung bakat dan minatnya. Selain itu, potensi juga dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Jika lingkungannya menggemari literasi, dia akan ikut serta untuk giat membaca dan aktif menulis.
"Apa itu potensi?"
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) luring versi V.0.4.0, "potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan." Kata 'mempunyai kemungkinan' dalam definisi potensi dapat menjadikannya rapuh. Artinya, ketika berada dalam kondisi yang mendukung seperti orang dan lingkungan sekitarnya, maka potensi yang dimiliki pun semakin kuat. Sebaliknya, jika tidak atau kurang adanya dukungan, potensi akan terkikis dan akhirnya hilang dari diri seseorang.
Untuk menjaga agar potensi tersebut tidak terkikis dan hilang, kita harus selalu mengasahnya. Mengasah dengan terus melakukannya berulang, berlatih atau mencari tempat yang tepat untuk menyalurkan potensi tersebut. Seperti yang belum lama saya alami. Sebelum ini saya sudah aktif dalam dunia literasi tepatnya ketika tingkat Aliyah. Karena suatu hal, saya tidak menulis lagi dalam kurun waktu yang cukup lama hingga akhirnya kemampuan menulis saya terkikis dan mulai hilang. Namun semua itu berubah ketika saya kuliah di IAIN Tulungagung di semester 4. Saya bertemu dengan Dr. Ngainun Naim dalam kuliah ilmu komunikasi (kalau tidak salah). Beliau menekankan pentingnya menulis dan mengistiqomahkan aktivitas tersebut. Mulai saat itu saya menulis sedikit demi sedikit di beranda Facebook dan berhasil istiqomah. Setelah itu, tibalah masa kelulusan saya. Inilah tantangan terberat bagi saya. Saya terpaksa keluar dari tempat yang 'tepat' untuk mengembangkan potensi saya, tapi sekarang, saya berada lagi di tempat yang tepat, bersama orang-orang yang tepat pula. Terlebih lagi satu grup dengan beliau, Dr. Ngainun Naim.
Selain itu, sejak kembali menulis saya memiliki editor pribadi, inisialnya Zizah. Dia lulusan IAIN Jurusan Tadris Bahasa Indonesia tahun 2019. Hobi membacanya sangat luar biasa. Sayang, dia belum memiliki gairah untuk menulis. Sebagai editor sekaligus calon pasangan hidup, saya ingin mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Saya sengaja menjadikannya editor supaya bisa mengasah dan mengembangkan potensi menulisnya. Karena menurut saya, aktivitas mengedit erat kaitannya dengan membaca dan menulis. Editor tidak akan bisa bekerja jika tidak membaca tulisan. Ketia ia menemukan ketidaksesuaian pada tulisan saya, dia akan menandai kesalahan bahkan kadang memberikan opsi revisi.
Kesimpulannya, saya sangat senang dan beruntung menjadi bagian dari grup Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung. Ditambah lagi saya memiliki editor kesayangan yang setia (hehe). Saya tidak akan menyia-nyiakan nikmat yang telah Tuhan berikan. Mudah-mudahan dengan adanya saya di grup SPK Tulungagung menjadi ladang kebajikan dan inspirasi. Sebagaimana yang dikatakan Dr. Ngainun Naim dalam blog beliau yang berjudul dakwah lewat tulisan. Beliau mengatakan, "Jika Anda mengunggah kebajikan maka kebajikan itu akan berlipat-lipat kali saat dibaca. Tentu akan lebih berlipat manakala mampu memberikan inspirasi dan menjadi energi untuk transformasi diri. Tulisan semacam ini adalah tulisan yang menggerakkan. Tulisan yang mampu memberikan dampak perubahan pada pembacanya."
Sekian
Karawang, 15-08-2020

Terlebih berdampak pada penulis, kunsumen hanya sebagai penikmat. Selamat berkarya kembali. 👍
BalasHapusTerima kasih teman 👍
Hapus