Hidup Bagaikan Roda

Penulis: Samsu Wijayanto

======================================


Hidup bagaikan roda yang berputar. Pepatah ini tentu sering kita dengar. Maknanya pun sangat variatif. Namun, kebanyakan dari kita sepakat, bahwa hidup bagai roda yang berputar bermakna 'hidup itu dinamis, tidak statis'. Setiap dari kita memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dari miskin menjadi kaya; menderita menjadi bahagia; serta pasif menjadi produktif.

Pepatah tersebut berlaku bagi siapapun yang mau "berusaha". Kata usaha berkaitan dengan bergerak atau 'moving on' (red: move on). Seseorang yang move on pasti sadar bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Ada yang salah dalam dirinya atau kehidupannya.

Apabila dianalogikan pada sebuah roda yang diam, ia tidak akan pernah berpindah dari posisinya, selamanya akan di situ, dan tetap pada posisi itu, begitupun manusia. Saat dalam keadaan terpuruk, manusia memiliki dua pilihan, diam atau move on. Jika berdiam, keadaannya tidak akan berubah, selamanya tetap terpuruk. Lain halnya ketika dia sadar bahwa dirinya tidak baik-baik saja dan akhirnya move on, yang terjadi keadaannya akan lebih membaik, minimal tidak separah awalnya.

Soal karya pun demikian, menulis misalnya. Seseorang selamanya tidak akan menulis jika di dalam dirinya tidak ada kemauan untuk menulis. Meskipun sudah banyak buku yang dikonsumsi, tetapi ia tetap enggan memproduksi tulisan, maka tetap saja dia hanya seorang pembaca. Teringat kata Pak Naim, "Tulisan yang bagus adalah tulisan yang jadi. Berlatihlah, istiqomahkan menulis singkat setiap hari."

Jadi, produktif atau tidaknya seseorang tergantung pelakunya. Kita akan produktif jika kita mau "mengusahakannya". Berbeda ketika kita hanya berdiam di zona nyaman menjadi pembaca, maka selamanya kita tidak akan pernah menjadi penulis.


Sekian


Karawang, 20-08-2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit