Pramuka dalam Hati
Penulis: Samsu Wijayanto
======================================
Sejak pagi beranda media sosial saya dipenuhi ucapan "Selamat Hari Pramuka Nasional." Saya sungguh tidak ingat perihal ini. Ingatan saya hanya tertuju pada rutinitas kemah sekecamatan setiap bulan Agustus. Perkemahan itu diadakan untuk memperingati hari lahirnya Pramuka. Jadi wajar jika saya tidak hafal tentang momen hari ini karena untuk tahun ini kemah rutin ditiadakan akibat adanya covid 19.
Pada Agustus sebelumnya, sekolah tempat saya mengajar selalu ikut serta dalam kemah rutin tersebut. Selalu saja, saya diikutkan untuk mendampingi anak-anak kemah. Alasannya saya merupakan guru yang cukup senior di yayasan dan kebetulan anak yang diikutkan adalah anak kelas 6, anak didik saya.
Secara kasat mata, kemah rutin tersebut bertujuan memeriahkan hari lahir Pramuka dengan beberapa perlombaan, riuhnya pedagang, dan megahnya api unggun. Namun di balik itu, tersirat kemandirian dan tanggung jawab bagi peserta lomba. Sebab, mereka melakukan semua perlombaan sendirian tanpa didampingi oleh pendamping tiap sekolah. Pendamping diminta untuk menunggu di tenda.
Pramuka tidak hanya mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab sebagai bekal diri. Ternyata, di dalam pramuka terdapat nilai keagamaan yang kental, yakni hablum minallah (hubungan dengan Tuhan) dan hablum minannas (hubungan dengan manusia). Di antaranya terdapat pada "Dasa Dharma Pramuka". Poin pertamanya mengarahkan kepada anggota untuk takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lalu poin kedua menyuruh kita cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. "Sudah cukup hablu minallah dan hablu minannas, kan? Jika belum, di bawah saya beri analogi agar makin yakin."
Nilai keagamaan yang berupa hablu minallah dan hablu minannas juga terdapat dalam seni pioneering. Pioneering adalah seni menghubungkan tongkat secara vertikal dan horizontal dengan menggunakan tali yang sama, yaitu tali pramuka berwarna putih. Pioneering tingkat SD biasanya hanya membuat tiang bendera, sedang tingkat lanjutan bisa membuat bentuk hewan atau gapura. Salah satu kawan saya yang sudah menggeluti pramuka belasan tahun berargumen dalam status 'whatsapp'nya. Dia mengatakan, "tegaknya tongkat menandakan hablu minallah, sedangkan rentangan tongkat menandakan hablu minannas. Keduanya diikat dengan tali putih yang sama, yaitu iman."
Kesimpulannya, pramuka bukan hanya sebuah ekstrakurikuler pada setiap jenjang pendidikan. Pramuka adalah karakter terpuji yang melibatkan seseorang dengan diri sendiri, seseorang dengan orang lain, dan seseorang dengan Tuhannya. Meski tidak berseragam, jika sudah baik, dia sesungguhnya telah menyandang pramuka sejati, karena pramuka bukan soal lahir, tapi batin. Pramuka bukan soal output atau input saja, tapi penggabungan keduanya. "Bagaimana kita kepada orang lain, dan bagaimana kita kepada diri sendiri. Bukan egois, bukan pula urakan."
Sekian
Antara Cilacap - Karawang, 14-08-2020

Setuju sekali. Begitulah Pramuka sejati
BalasHapusSalam Pramuka pak
BalasHapus