Secuil Hikmah Workshop

 Penulis: Samsu Wijayanto

====================================


Rabu, 19 Agustus 2020 saya menghadiri sebuah workshop pendidikan yang diadakan oleh yayasan tempat saya mengajar. Meski melakukan perkumpulan, tentu dimasa pandemi ini kami tetap menerapkan protokol kesehatan yang sesuai dengan instruksi satgas covid-19. Workshop pagi tadi berjudul "Bedah Kurikulum Madrasah Berdasarkan KMA 184 thn 2019" dengan pemateri Dr. H. Cecep Sundulusi, M. Pd.


Acara tersebut terbagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama memaparkan tentang definisi guru, peran guru dan guru inspiratif. Sesi kedua, bedah kurikulum. Terakhir, sesi ketiga praktik dan penugasan untuk para guru. Dari ketiga sesi di atas, hanya sesi pertama yang (menurut saya) sangat menarik.


Pada sesi pertama pemateri mengatakan bahwa, "anak didik senakal apapun itu kita tidak akan tahu kelak dia akan menjadi apa. Sebagai guru kita tidak boleh melakukan judgemen dini terhadap anak yang kita didik. Belum tentu anak yang kita anggap "nakal", masa depannya akan hancur. Sebaliknya, anak yang nurut dan baik belum tentu juga masa depannya gemilang. Semua tergantung peran guru sebagai aktor yang baik ataupun buruk bagi anak." Pernyataan di atas sangat menarik perhatian saya, hingga saya catat di buku dan saya garis bawahi.


Guru memiliki dua peran, pertama menjadi aktor yang baik. Guru dengan peran ini sesungguhnya akan bersikap friendly (bersahabat) dengan murid. Ya, tentunya masih ada batasan-batasan pada waktu dan kondisi tertentu. Namun guru semacam ini akan berbicara dari hati ke hati ketika anak didiknya berbuat sesuatu di luar kontrolnya. Dengan begitu, guru akan memahami kemauan dan kemampuan anak didiknya.


Sebaliknya, guru sebagai aktor buruk akan enggan apabila bertemu dengan murid yang susah dikontrol. Bawaannya pasti emosi dan ingin marah-marah kalau bertemu dengan anak tersebut. Justru saat anak didik semacam itu mendapat perlakuan demikian, dia akan melakukan hal yang lebih gila dengan harapan diperhatikan oleh gurunya. Alhasil anak tidak akan terarah.


Kata kuncinya adalah terarah. Salah satu tugas guru sebagai aktor adalah mengarahkan. Selain mendidik, mengajar, dan membimbing guru memiliki kewajiban untuk mengarahkan anak didiknya. Mengarahkan dari akhlak yang kurang baik menuju akhlak yang baik. Mengarahkan dari malas ke rajin. Urusan di akhir nanti anak didik jadi baik atau buruk, berakhlak atau tidak guru tidak bisa menentukan. Karena guru hanya pengarah, bukan penentu.


Oleh karena itu, senakal apapun anak didik dekatilah jangan dijauhi. Rangkul, jangan dipukul. mengajar, bukan menghajar. Membenahi, bukan memarahi.


Sekian


Karawang, 19-08-2020

Komentar

  1. Smoga saya bisa menjadi guru untuk diri saya sendiri dan orang lainnya... sangat inspiratif

    BalasHapus
  2. Apresiasi untuk semua guru yang telah bersusah payah mendampingi, mengarahkan, mengayomi, dan memberi teladan kepada peserta didik dengan ketulusan. Catatan yang mantap pak.

    BalasHapus
  3. Mantabb mas..
    Benar sekali.. Guru hanya mengarahkan anak untuk lebih baik demi menggapai cita²nya.. Selebihnya mau nanti jadi seperti apa itu masih rahasia ilahi, yg terpenting adalah kita membimbing anak menjadi baik dulu.. InsyaAllah nanti ke depannya anak akan semakin baik dan bisa menemukan jati diri sampai dia meraih cita²nya.
    Tugas guru itu sangat mulia mas.
    Dan saya bangga menjadi seorang guru 😇

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. Semangat terus dek dalam mendidik dan mengarahkan anak2 menjadi lebih baik. Insyaallah pahala dan surga untuk kita.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit