Pernikahan berarti Saling....

Penulis: Samsu Wijayanto

======================================


Pernikahan merupakan komitmen antara laki-laki dan perempuan (red: suami dan istri) untuk melanggengkan kata "saling" dalam rumah tangga. Saling menghormati dan saling mengerti contohnya.

Sebenarnya berat bagi penulis membahas ta ini. Alasannya, penulis belum menikah dan belum mengalaminya langsung. Selain itu, penulis hanya mengungkapkan berdasarkan pengamatan dan hasil bacaan. Jadi, rentan sekali adanya kekeliruan, karena fakta di lapangan seringkali berbeda dengan teori di buku. Untuk itu, mohon dimaafkan jika ada kekeliruan dan saran untuk perbaikan.

Kembali lagi soal pernikahan. Saling menghormati dalam rumah tangga itu penting. Meskipun suami adalah imam dalam keluarga, istri juga tetap harus dihormati oleh suami. Dihormati haknya dengan cara dipenuhi, bebaskan dia untuk berhobi, asal tidak merugikan, dan didengar pendapatnya. Dalam kitab "Mar'atus Sholihah" karya KH. Masruhan al-Maghfuri al-Maraqi al-Samaroni, pendiri pondok al-Maghfur dijelaskan, "menghadapi permasalahan apapun lebih baik di musyawarahkan bersama antara suami dan istri. Permasalahan sekecil apapun jangan disepelekan tanpa ada sebuah penyelesaian, biasakanlah untuk memusyawarahkannya dan mencari jalan keluar dengan baik antara suami istri agar tercipta keluarga yang rukun dan harmonis."

Saling mengerti pun sama pentingnya dengan saling menghormati. Dengan saling mengerti, kehidupan rumah tangga tidak hanya rukun dan harmonis tapi juga akan indah dan serba mudah. Seperti yang dicontohkan dalam kitab yang sama (kitab Mar'atus Sholihah), "mencuci pakaian suami sesungguhnya bukanlah kewajiban istri. Namun apabila tidak ada atau suami tidak punya waktu untuk mencuci sendiri karena kesibukannya maka lebih baik istrilah yang mencucikan pakaian suaminya. Selagi mampu dan bisa, suami bisa mencuci pakaiannya sendiri."

Senada dengan contoh di atas, mencari nafkah itu juga soal kerja sama dan pengertian. Memang mencari nafkah adalah tugas suami. Akan tetapi, jika istri (mau dan mampu) bekerja, silakan. Jangan karena ego tinggi suami melarang dan menentang, akhirnya hubungan rumah tangga jadi pecah dan kurang indah. Begitupun ketika suami berdagang dan laris pembeli. Tidak ada salahnya bagi istri untuk membantu pekerjaan suaminya, seperti yang saya saksikan tadi ketika membeli mi ayam di sebuah warung. Suami keteteran (red: kerepotan) dalam melayani pembeli. Saat saya hitung, ada sekitar 6 yang dibungkus dan 4 dimakan di tempat. Secara cekatan, istri dari dalam rumah langsung berlari dan membantu suaminya tanpa diminta. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Pekerjaan pun menjadi mudah.


Dari kedua contoh di atas mungkin mudah secara teori. Praktiknya? Belum tentu. Oleh karena itu, dalam pandangan agama, pernikahan tidak bisa dibuat main-main atau terbersit kata "bosan" seperti cerita dalam sinetron Indosiar. Ingat, pernikahan adalah hubungan yang agung - seperti yang sudah tertulis di blog saya waktu lalu. Sesulit apapun pertahankan, kecuali pernikahan tersebut membawa madlorot dan aniaya.


Mudah-mudahan bermanfaat.

Semoga penulis nantinya bisa mengamalkan teori yang telah ditulis ini. Aamiin :)


Sekian


Karawang, 23 Agustus 2020

Komentar

  1. Pernikahan adalah penyatuan 2 aku, tidak bisa melebur, keduanya punya jati diri yang berbeda. Di sinilah diperlukan kolaborasi, kemitraan, kesalingan. Semoga segera bertemu dengan pujaan hati.

    BalasHapus
  2. MasyaAllah, sangat bermanfaat. Utamanya sebagai bekal bagi saya pribadi saat nanti telah menikah.
    Saling mengerti, memahami, & melengkapi.
    Karena menikah adalah proses belajar bersama (suami & istri) selamanya.

    BalasHapus
  3. Komunikasi yang baik adalah kunci dari keharmonisan dalam rumah tangga

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit