Menyelami Kebingungan

 Oleh: Samsu Wijayanto

======================================


Di dunia ini tidak ada manusia yang tidak berpikir. Sekalipun orang tersebut berperilaku 'masa bodo' dengan berucap, "Udahlah aku stress. Buntu pikiranku. Bingung aku." Dari kebuntuan, kebingungan dan stress yang dialami orang itu menandakan bahwa dia masih berpikir. Hanya saja, karena pikirannya sudah mentok, maka keluarlah kata-kata itu sebagai bukti tidak kuat dan menyerah.

Kebingungan yang kita rasakan, patut untuk kita syukuri.  Hal itu menandakan bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berpikir. Kebingungan tidak melulu soal kebuntuan. Bingung juga bisa diakibatkan oleh adanya hal yang kontradiksi seperti beberapa iklan yang akan saya bahas di bawah.

Pertama iklan rokok. Tulisan saya berjudul "Belajar dari Iklan" (silakan cek di blog saya) memaparkan tentang pentingnya mengambil hikmah (pelajaran) dari iklan yang terpampang di televisi. Saat tulisan itu saya posting ke media sosial facebook, ternyata salah satu sahabat dari "Sahabat Pena Kita" bernama Woko Utoro menyadarkan saya tentang satu hal, yaitu adanya rekayasa, penggiringan opini dan imajinasi dalam sebuah iklan. Setelah bercakap di kolom komentar, saya menyimpulkan, kebanyakan iklan rokok tidak menampilkan orang merokok. Kebanyakan mereka menyuguhkan beragam cerita sebagai daya tarik publik . Seperti, iklan rokok menampilkan guyonan dengan tokoh utama jin atau iklan rokok yang menampilkan aksi heroik di lautan atau melompati gedung. "Iklan rokok kok tidak ada orang merokok, kontradiksi bukan?"

Kedua promosi ruang belajar 'online' berinisial RG. Dalam promosinya, RG memilih 'Brand Ambassador' seseorang yang jauh dari 'image' pendidikan atau dunia belajar. "Siapa itu? Siapa lagi kalo bukan Mas Jess No Limit." Beberapa orang pecinta game "Mobile Legend" yang biasa disebut ML, pasti tahu dengan Mas Jess. Dia adalah proplayer game tersebut. Malah, sekarang mulai merambah ke game 'battleroyal', seperti PUBG. Menurut saya, seorang gamers kurang pas jika menjadi Brand Ambassador produk pendidikan. Masih banyak aktor, aktris, atau publik figure yang lebih pantas menjadi 'Brand Ambassador' seperti Maudy Ayunda, peraih beasiswa LPDP di Stanford University, California, misalnya. Tidak hanya mahir berakting dan bersuara merdu, tapi dia mampu bersaing di dunia akademik. Sepertinya dia lebih pas.

Dari sini kita bisa tahu, dunia iklan dan marketing tidak bisa ditebak. Kita tidak tahu tujuan mereka (pemilik produk). Namun, sebagai masyarakat kita harus bisa jeli dalam mengamati serta mengkritisi hal-hal yang terjadi di dunia televisi. Intinya, jangan mudah termakan rayuan iklan. "Apalagi percaya sama iklan face shield PT KAI. Ingat ini gratis! Jangan dibeli. Hehe"


Sekian


Karawang, 12-08-2020

Komentar

  1. lhaa ada nama abdi dicatut wkwkwk. ibid hlm berapa itu wkwkw

    BalasHapus
  2. Terima kasih pak pencerahannya. Benar, hampir semua yg ditampilkan di TV itu sampah, dan kita dipaksa mengkonsumsinya setiap hari. Hehe

    BalasHapus
  3. Aseeek..
    Iklan seringkali dikemas dengan unik dan tidak tertebak. Supaya mengundang rasa penasaran dan meningkatkan konsumsi publik. Sepertinya begitu sih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti bagian dari strategi pemasaran yah. Hehe

      Hapus
  4. Pasti ditulis diperjalanan menjemput pengantin menuju pelaminan.. wkwk sampai-sampai editornya di iklankan.. heheuheu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit