Menyeimbangkan Hak dan Kewajiban

Penulis: Samsu Wijayanto

====================================


Setiap orang pasti menerima hak dan melaksanakan kewajibannya. Antara hak dan kewajiban tentu tidak dapat dipisahkan. Pelaksanaan keduanya pun harus seimbang, tidak boleh timpang. Pun jika jomplang, cacat keadilan pasti tak terhindarkan. 

Hak kita sebagai warga negara salah satunya mendapatkan keamanan. Misalnya saat berkendara. Saat berkendara warga berhak mendapat keamanan dan keselamatan di jalan. Namun, sudahkah kita melaksanakan kewajiban seperti menggunakan helm atau sabuk pengaman? Jika belum, maka polisi sebagai aparat keamanan berkewajiban menegur kita dengan tilang.

Begitu juga sebagai pasangan suami-istri. Pada contoh yang kedua ini, pasangan suami-istri juga memiliki beberapa hak dan kewajiban yang perlu disepakati bersama. Misalnya soal hobi. Hobi sesungguhnya hanya sebuah hak. Namun, jika hobi tidak diketahui dan disepakati oleh pasangan, maka muncullah sebuah pertengkaran. Untuk itulah, keduanya harus menyepakati. Jika keduanya sepakat, pasangan (istri) memiliki kewajiban untuk mengerti dan menyupport hobi suaminya. Begitu pun sebaliknya, suami juga berkewajiban membagi waktu untuk keluarga dan hobinya sendiri. Jangan sampai hobi tersebut malah melalaikan keluarga, apalagi sampai merugikan keuangan keluarga.

Selain hobi, merokok pun menjadi hak bagi lelaki. Perempuan tidak boleh membatasi dan melarang, apalagi jika lelakinya seorang perokok. Perempuan berkewajiban mengerti keadaan lelakinya, tapi bukan berarti lelaki bisa berbuat semena-mena. Perempuan memiliki hak hidup sehat tanpa asap, mendapatkan udara bersih di rumahnya sendiri. Oleh karena itu, lelaki berkewajiban mengerti dengan kegelisahan perempuannya dengan tidak merokok di depannya. Sang lelaki dapat merokok dengan sewajarnya (tidak merugikan keuangan keluarga) saja dan jangan sampai ada seorang lelaki yang merokok di depan anak kecil atau malah anaknya sendiri. Bisa jadi anak itu akan menirunya kelak. 

Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa apapun hobi atau kebiasaan seseorang, salah satu contohnya adalah perokok, penting sekali baginya untuk memperhatikan situasi. "Kapan waktu berhobi, kapan waktu dengan keluarga. Di mana tempat yang diperbolehkan merokok, di mana yang tidak boleh." Terakhir, jika contoh di atas sudah mengancam hubungan, sebaiknya salah satu harus dikalahkan. Lelaki mengalah dengan merelakan hobi atau rokoknya demi kesehatan dan keuangan. Begitupun perempuan yang mengalah dengan sabar dan tetap mengingatkan supaya tidak kebablasan.


Sekian


Kroya-Cilacap, 13-08-2020

Komentar

  1. Wkwkwkwk... Cara pandang bukan perokok. Coba argumentasi yang ditampilkan diambil dari sudut pandang perokok masif pasti berbeda lagi alur ceritanya.

    Pertanyaannya cuma satu, dari sekian hobi yang digemari kaum Adam kenapa yang dijadikan contoh merokok? Kenapa tidak nge-game? Ngopi di warkop dan lain sebagainya.. hehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hobi dan rokok ini contoh yg terpisah Ron. Hehe

      Hapus
  2. Kata alm Bpk Basufi Sudirman tidak semua laki-laki seperti itu, hoby merokok contohnya saya pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rokok di atas menunjukkan aktivitas yang dilakukan oleh beberapa lelaki pak. Bukan termasuk hobi

      Hapus
  3. Hhhh.... perokok yg baik bisa memilih tempat yg tepat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit