Meneladani Hadis Nabi; Berderma untuk Anak Yatim dan Dhuafa

Oleh: Samsu Wijayanto

"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain"


Hadis di atas mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Hadis tersebut merupakan ajakan sesama manusia untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, tidak heran jika mubaligh atau penceramah mengumandangkan hadis tersebut sebab tugas mereka adalah da'watu lil khoir' (mengajak kepada kebaikan).


Apakah hanya mubaligh atau penceramah saja yang bertugas mengajak pada kebaikan?


Tentu tidak. Sesuai dengan namanya "da'watu" berarti mengajak. Mengajak berkonotasi umum, tidak hanya pada satu profesi saja. Setiap dari kita diperbolehkan, bahkan diwajibkan mengajak pada kebaikan. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), mengajak berarti memperlihatkan bagaimana cara melakukan sesuatu; atau mencontohkan. Jadi seseorang yang mengajak artinya tidak hanya menyuruh tapi ikut melakukan sesuatu yang diucapkan.


Salah satu contoh kebaikan yang banyak manfaatnya adalah menyantuni anak yatim dan berbagi dengan dhuafa. Manfaat menyantuni anak yatim adalah akan tinggal bersama Nabi di surga. Seperti hadis Nabi,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

"Saya (Rasulullah) dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya."

Hadis di atas disampaikan oleh KH. Juhyar, S.Pd.I., MA. dalam sebuah santunan yang diadakan siang tadi oleh "AL-HUDA CARE" yang bertempat di Pon. Pes. Nurul Falah Al-Huda, Kaliwedi, Cengkong. Al-Huda Care merupakan wadah bagi para dermawan untuk mendermakan sebagian hartanya untuk anak yatim dan dhuafa, yang totalnya 68 (53 anak yatim, dan 15 dhuafa). Donasi yang masuk akan disalurkan untuk biaya pendidikan mereka di Yayasan Nurul Falah Al-Mubarokah, seperti buku, seragam, biaya pesantren, dan lain-lain.


Bayangkan, ketika mereka bebas biaya pendidikan karena bantuan kita, kemudian mereka mendapatkan ilmu, lalu mereka amalkan. Maka, kita akan mendapatkan pahala dari ilmu yang mereka pelajari dan amalkan, meskipun kita sudah "tiada".


Berikut ini adalah hadis yang tentu tidak asing lagi bagi kita, yakni, 

إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.


Maksud dari hadis di atas, memberi dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan akan mendatangkan pahala yang mengalir. Seperti pertama, melakukan sedekah jariyah dengan membiayai pendidikan mereka, yaitu buku dan pakaian seragam. Kedua, mereka mendapatkan ilmu yang bermanfaat. "Luar biasa bukan, manfaat dari berdonasi dan menyantuni?"


Kesimpulannya, menjadi dermawan tidak akan mengalami kemiskinan, justru keberkahan. Dengan memberi dan berbagi kita tidak akan rugi, bahkan di surga nanti bisa bertemu Nabi (insyaallah). Jadi yang ingin bergabung bersama kami, akan kami terima dengan tangan terbuka. Kami ajak pembaca semua untuk ikut berderma, menyejahterakan anak yatim dan dhuafa dengan sebagian harta. Semoga amal jariyah kita diterima dan menjadi jalan menuju surga-Nya.

Sekian


Karawang, 30 Agustus 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit