Mencari Hilal; Berdamai dengan Perbedaan

Penulis: Samsu Wijayanto

======================================



Mencari Hilal adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 2015. Film ini dibintangi oleh Deddy Sutomo dan Oka Antara sebagai tokoh utamanya. Sesuai judulnya, film ini menceritakan seorang Bapak bernama Mahmud, 60 tahun (Deddy Sutomo) ingin melihat hilal untuk menentukan lebaran Idul Fitri secara langsung. Dalam keadaan yang kurang baik, dia tetap memaksakan diri. Namun, dia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh anaknya bernama Heli (Oka Antara), seorang aktivis yang kerap berselisih paham dengan bapaknya itu. Heli terpaksa menemani bapaknya dengan balasan akan dibuatkan paspor untuk tugas organisasinya oleh kakak perempuannya. 


Film ini menarik perhatian saya pada saat sebelum dan proses pencarian hilal. Di situ digambarkan bahwa pandangan dan pengaplikasian Islam dibagi menjadi tiga macam. Pertama Islam yang kaku dan kolot. Cara pandang ini dianut oleh pak Mahmud (sosok bapak). Pak Mahmud berpandangan, Islam hanya soal pahala dan dosa; nikmat dan siksa; halal dan haram. Pandangan kolot dan kakunya ditampilkan saat dia menaiki sebuah bis. Dia tidak mau melakukan rukhsoh (keringanan) ibadah dalam perjalanan, hingga berdebat dengan sopir dan menyalahkannya. Dia meminta sopir berhenti dan menepikan bisnya untuk melaksanakan solat karena sudah masuk waktunya. Padahal sopir sudah menjelaskan agar si bapak menjamak solatnya, tapi pak Mahmud sungguh tidak toleran sehingga akhirnya dia diturunkan oleh sopir dari bis.


Kedua Islam keras. Cara pandang Islam yang seperti ini sesungguhnya harus dihindari di negara ini. Sebab, bukan membawa manfaat akhirnya, tapi membawa bencana, perpecahan dan permusuhan. Adegan ini ditampilkan saat pak Mahmud berada di sebuah desa untuk mencari tokoh agama yang bisa ditanyai lokasi untuk melihat hilal. Ternyata dia adalah tokoh agama Kristen. Kebetulan di situ sedang diadakan ibadah umat kristiani. Tidak lama ada ormas yang datang dan mengamuk membubarkan jemaat dan memporak-porandakan tempat tersebut. Heli yang seorang aktivis tidak terima dan berusaha membela hak beragama umat kristiani. 'Eh, dia malah disesatkan dan dipukuli hingga pingsan".


Ketiga Islam yang masih menganut kepercayaan, kalau dalam film kejawen. Tidak bisa dipungkiri, cara pandang Islam demikian masih ada dan kental dianut oleh warga Indonesia khususnya suku Jawa. Mulai dulu hingga sekarang. Seperti adanya selametan, kenduri, mitoni (7 bulan kandungan) dan arak-arakan saat takbiran merupakan pernak-pernik budaya yang menempel pada Islam. Tidak bisa kita salahkan, bid'ahkan apalagi sesatkan. Sebab, kegiatan tersebut dulunya adalah dakwah para wali untuk mengajak masyarakat masuk agama Islam.


Diakhir cerita, pak Mahmud menyalahkan dan membid'ahkan ajaran Islam kejawen yang sedang ditemuinya itu. Dia menganggap arak-arakan, kenduri di malam takbiran bukan ajaran dari Nabi dan tidak ada dasar hukumnya. Anaknya (Heli) pun ikut angkat bicara dengan menentang bapaknya. Heli mengatakan, "bapak boleh menganggap mereka salah. Tapi apakah boleh bapak menyalahkan mereka dan membid'ahkan mereka? Bukan kah perbedaan ini ciptaan Allah? Kalau perbedaan ini malah membawa permusuhan dan perselisihan, kenapa Allah tidak bikin semua sama?" sambil geram.


Kesimpulannya, kita diperbolehkan dan dibebaskan memilih agama, kepercayaan dan ajaran Islam untuk dianut. Namun kita tidak diperbolehkan untuk menyalahkan apalagi memaki yang dianut orang lain. Allah semgaja menciptakan kita berbeda. Tujuannya untuk saling mengenal, memahami dan toleransi. Hidup berdampingan agar tercipta keindahan dan keberkahan.


Sekian


Karawang, 25 Agustus 2020

Komentar

  1. Tulisan yang bagus. Semoga cepat sembuh

    BalasHapus
  2. Membacanya menginginkan saya pada ulasan tri kotomi Clifford Geertz, tentang Islam abangan.

    Tapi saya pikir itu bukan sekadar tentang budaya yang ditinggalkan oleh para waliyullah, melainkan memang ada kesadaran sekterian yang mendalam bahwa dalam memaknai hakikat beragama memang harus bersikap ekspresif.


    Dan itu terjadi bukan di Jawa saja, hampir di semua keyakinan (agama) yang ada di masing-masing daerah akan selalu ada. Cuma bentuknya saja yang berbeda.

    Dan salah satu intinya sebagaimana yang terkandung dalam QS. Al-Hujrat; 13.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya saya ingin lebih panjang membahas tentang Islam yang berbenturan dengan budaya. Tapi karena kapasitas yang kurang dan takut keluar konteks film jadi saya cukupkan Ron. Hehe

      Masalah knp kok Jawa, karena seting film itu mengarah ke suku Jawa. Jadi itu yg jadi sorotan.

      Terima kasih Roni. Wawasanku bertambah.

      Hapus
  3. Ulasan kang deniels pada film ini,. Membuat saya teringat dua film lain yang sekira temanya serupa,. Sabtu bersama bapak dan cek toko sebelah. Gambaran relasi bapak-anak laki² memang sederhana namun kompleks,. Beda dengan bapak-anak perempuan, ibu-anak laki², atau ibu-anak perempuan.

    Kesamaan jender orang tua dengan anak, dominan berpotensi untuk kompleks. Seperti ada ego yang saling tumpang tindih berotasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya keakraban antara orang tua dan anak terjadi pada lintas gender mas. Anak laki2 cenderung dekat, akrab dan nurut dgn ibunya, sebaliknya. Yang perempuan nurut dgn bapaknya.

      Makanya aku ingin anak perempuan dgn si dia. Wkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit