Cukup dengan Sederhana

Penulis: Samsu Wijayanto

====================================


Miskin merupakan status sosial yang sangat dihindari oleh sebagian orang. Banyak orang membanting tulang untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak sedikit pula mereka menghalalkan yang haram demi keluar dari zona kemiskinan.

Pepatah mengatakan, hidup itu seperti roda berputar. Orang yang sedang mengalami kemiskinan, lambat laun akan segera berakhir. Dengan usaha yang keras, tekun, dan sabar, seseorang pasti akan keluar dari kemiskinan dan beralih menjadi kejayaan. Namun, ketika kejayaan sudah didapat, kita dianjurkan untuk tidak lalai bahwa itu hanya titipan dari Allah.

Faktanya, ketika seseorang sudah nyaman pada fase jaya atau memiliki kekayaan, dia akan lalai. Parahnya, sebagian besar orang takut menjadi miskin kembali seperti dulu. Dia lupa bahwa dia dulu pernah berada dalam keadaan yang sulit. Oleh sebab itu, Allah memberikan kita peringatan yang mengimplementasikan kehidupan orang kaya. Peringatan ini tertera dalam surat at-Takatsur ayat 1, berbunyi Allah SWT berfirman:

أَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُ
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,"

Allah tidak melarang hamba-Nya berikhtiar untuk memiliki banyak harta. Allah hanya melarang kita untuk bermegah-megahan. Artinya kita boleh kaya atau hidup bergelimang harta, tapi tidak dengan berlebihan. Seperti menampakkan kekayaan di depan orang atau saudara yang kekurangan. Berfoya-foya dengan menghambur-hamburkan kekayaan. Allah menganjurkan kita untuk sederhana. Sebab dengan sederhana, kita tidak akan lupa diri dan takut miskin lagi.

Manusia yang dalam hatinya takut miskin sesungguhnya ada peran setan yang bermain. Setan membisikkan berbagai macam bayangan-bayangan supaya manusia takut menjadi miskin. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah : 268, berbunyi:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, "setan tidak segan-segan menakut-nakuti hambanya dengan kemiskinan sehingga banyak sekali orang enggan untuk bersedekah, infaq bahkan zakat. Selain itu, setan juga membisikan pada telinga manusia bahwa kebathilan adalah halal baginya, seperti bakhil dan serakah. Tidak heran jika banyak yang rela menggadaikan imannya untuk pergi ke ahli nujum (dukun) untuk melancarkan dan mempertahankan kekayaannya.

Quraish Shihab juga menambahkan, "Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan, memalingkan dari amal saleh sehingga kalian tidak berinfak di jalan kebaikan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan. Ampunan Allah amatlah luas. Dia Mahakuasa untuk membuat kalian kaya. Tidak ada satu masalah pun yang tidak diketahui-Nya."

Intinya, seberapapun harta benda yang kita miliki. Itu semua hanya titipan. Tak pantas kita terlalu bangga dan tak boleh juga kita putus asa hingga takut menjadi miskin. Allah telah mengatur porsi rezeki kita dengan adil dan pas. Tinggal bagaimana kita mensyukuri apa yang kita miliki dan menggunakannya dengan baik dengan saling berbagi.


Sekian


Karawang, 12-07-2018

Komentar

  1. Bersyukur dalam setiap situasi dan kondisi. Terimakasih pengingatnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit