Fenomena Writer's Block: Hadapi! Bukan Berhenti!

Oleh: Samsu Wijayanto

Menjadi seorang penulis bukan hak yang mudah. Selain tidak mudah, menulis juga bukan aktivitas yang banyak digemari oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang lebih memilih hobi yang seru dan menyenangkan seperti bermusik, olahraga atau bermain game. Namun seru dan menyenangkan setiap orang berbeda-beda. Orang yang senang bermusik tidak bisa dipaksakan senang menulis, begitupun sebaliknya. Orang yang senang menulis tidak bisa dipaksakan untuk senang bermusik. Seru dan senang adalah soal rasa. Tidak bisa diatur apalagi dipaksa.

Bagi kita yang menyukai atau menggiati aktivitas menulis, pasti pernah mengalami kendala yang sama, yakni "writer's block" atau kebuntuan menulis. Kebuntuan menulis bisa terjadi pada pemula atau yang sudah terbiasa. Kendala ini muncul bukan tanpa sebab. Menurut kak Meutia Azzura, seorang pengiat menulis kreatif sekaligus bekerja di salah satu brand produk sebagai penulis iklan brand mengatakan "ada empat faktor penyebab adanya writer's block, (1) Mengejar kesempurnaan; (2) Membandingkan dengan tulisan orang lain; (3) Merasa tidak ada ide; (4) Ragu pada diri sendiri." Keterangan ini saya dapat dari pelatihan yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Pelatihan ini merupakan program prakerja yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengembangkan skill masyarakat di masa pandemi. Beruntung saya bisa mengikuti pelatihan tersebut.

Dalam pelatihan tersebut, saya menggaris bawahi bahwa empat faktor di atas sangat mengganggu seorang penulis. Pertama, penulis yang di dalam hatinya terbersit ingin mengejar kesempurnaan pasti akan membuat repot diri sendiri. Ketika menulis hanya mengejar kesempurnaan, pasti cenderung banyak menghapus dan mengganti redaksi tulisannya sendiri. Alhasil dia akan terjebak dengan hapus-tulis-hapus. Akibatnya akan buntu dan tulisan tidak akan selesai. Jadi menulislah mengalir. Tuliskan apa yang ada dipikiran. Edit nanti jika telah usai.

Kedua, membaca karya atau tulisan orang lain sangatlah penting. Memiliki keinginan untuk mengungguli penulis lain atau penulis idolanya juga sama penting. Namun jangan terjebak dalam sebuah perbandingan. Ketika kita menulis, buang jauh-jauh rasa minder (tidak percaya diri) karena usai membaca tulisan orang. Justru jadikan tulisan orang lain sebagai bahan atau inspirasi dalam menulis. Jika kita bisa menjadikan tulisan orang sebagai bahan atau inspirasi, maka kita bisa dengan mudah mengolah kata hingga jadi tulisan. Tapi ingat, jangan plagiat.

Ketiga, merasa tidak ada ide itu wajar. Sekelas penulis profesional pun pasti pernah mengalaminya. Bedanya, penulis profesional memiliki banyak cara untuk menggali ide yang terkubur. Ini yang perlu kita contoh. Penulis profesional akan menjeda tulisannya beberapa saat juja mengalami kebuntuan. Mereka akan berkeliling rumah, mendengarkan musik, membaca buku yang asyik, bahkan menonton film. Itu semua mereka lakukan agar pikiran memiliki waktu istirahat dari penatnya menulis. Hal-hal di atas juga dilakukan oleh kak Meutia ketika mengalami writer's block.

Terakhir, ragu pada diri sendiri. Faktor ini akan muncul jika poin pertama dan kedua bertengger dalam diri seseorang. Seseorang yang mengejar kesempurnaan akan stagnan dan ujung-ujungnya ragu untuk melanjutkan tulisannya. Begitu juga ketika kita membandingkan dengan tulisan orang lain. Pasti akan muncul rasa minder yang akhirnya membuat ragu diawal menulis maupun diakhir ketika akan memposting tulisan di media sosial atau blog.

Intinya, jika ingin mengasah dan menggiati menulis menulislah demi kesenangan, bukan demi kesempurnaan. Menulislah supaya bermanfaat bagi orang lain dan diri sendiri, bukan semata untuk kompetisi. Kecuali kalau memang dalam kondisi LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah). Itu beda lagi.


Semoga bermanfaat


Sekian


Karawang, 14-10-2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit