Mulan: Mendobrak Batasan dan Ketidakadilan terhadap Perempuan
Oleh: Samsu Wijayanto
"Gadis itu menjadi seorang prajurit. Prajurit itu menjadi pemimpin. Pemimpinnya menjadi seorang legenda."
Kalimat di atas merupakan narasi yang diucapkan narator di akhir film Mulan. Ya, petang tadi saya baru saja menonton film itu. Film itu sebenarnya dirilis awal tahun ini, hanya saja saya baru tahu di bulan Agustus dan baru sempat mendownload dan menonton petang tadi. Oiya, film ini sudah pernah ditayangkan, namun masih berbentuk animasi di tahun 1998. Keduanya adalah film hasil produksi dari Disney. Karena saya nontonnya Mulan yang rilis pada tahun 2020 dan versi manusia, maka yang akan saya bahas adalah Mulan (2020).
Ada beberapa hal yang menurut saya menarik untuk dibahas. Pertama background poster, pakaian dan akhir film adalah warna merah. Pilihan warna ini bukan tanpa alasan. Ada hubungan antara warna merah dengan isi dari film itu. Kedua pesan moral film itu. Ketiga film ini tidak ada darah sedikitpun meski film perang.
Film Mulan bercerita tentang kehidupan keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki. Zhou dikaruniai dua orang anak perempuan yang berbeda. Anak pertama Mulan dengan sifat "maskulin" yang dimilikinya. Sehingga dia cenderung berani, aktif dan seperti anak laki-laki pada umumnya (baca: tomboy). Dia hobi berkuda, belajar bela diri dan banyak aktivitas laki-laki yang dia lakukan. Karena itulah orang sekelilingnya, termasuk ibunya menganggapnya aneh dan merupakan aib bagi keluarganya. Bahkan, ibunya bahwa "kehormatan perempuan itu dengan menikah. Jangan bertingkah bodoh sehingga membuat aib bagi keluarga." Ayahnya pun yang awalnya mendukung malah mengatakan, "ayah tahu chi-mu begitu besar. Tapi kamu seorang perempuan. Batasi dan tahan chi-mu agar tidak menjadi aib."
Lihat, scene di atas mengisyaratkan bahwa kehidupan perempuan jaman dulu begitu terbatasi. Mulan seorang yang berpotensi menjadi orang yang lebih dari anak seusianya malah dibatasi. Maka warna merah adalah simbol berani. Berani mendobrak ketidakadilan atas diri seseorang. Berani melewati batas kewajaran selama baik dan tidak merugikan orang lain. Berani menjadi diri sendiri dengan tetap mengembangkan potensi yang dimilikinya walau mendapat tekanan.
Kemudian kerajaan mengalami masalah yakni mendapat serangan dari pemberontak. Kaisar pun mengumumkan untuk setiap keluarga mengirimkan satu putranya untuk ikut pelatihan dan berjuang melawan pemberontak. Namun keluarga Hua (marga keluarga Mulan) tidak memiliki anak laki-laki. Akhirnya Zhou (sang ayah) memaksakan diri meski pincang dan sakit-sakitan akan tetap berjuang. Melihat itu, Mulan tidak tega dan geram. Akhirnya Mulan mencuri kuda, zirah (baku perang) dan pedang milik ayahnya. Lalu dialah yang berangkat untuk berjuang.
Di tempat pelatihan dia menggunakan nama samaran. Sebab, dia juga menyamar. Dia berpakaian laki-laki dan menutupi keperempuanannya demi bisa berlatih dan ikut berjuang. Dia memakai nama Hua Jun. Setelah beberapa lama berlatih akhirnya pertempuran dimulai. Mulan menghadapi musuh dan ternyata dipihak musuh pun ada seorang perempuan. Dia disebut penyihir. Dia mengatakan "kalau ingin kuat jangan tutupi dengan kebohongan. Bebaskan dirimu. Jadilah diri sendiri." Musuh pun kalah dan penyamarannya terbongkar. Dia diusir dari pasukan.
Antara Mulan dan musuhnya mengalami kesamaan. Sama-sama dibuang, diasingkan dan tidak diberi tempat. Akan tetapi mereka berdua berbeda jalan. Penyihir itu berada di jalan kejahatan, sedangkan Mulan di jalan mulia. Dengan kegigihannya dan potensi yang dimiliki Mulan, dia diterima kembali menjadi prajurit. Bahkan dialah yang memimpin untuk melindungi Kaisar.
Akhirnya, Kaisar dan rakyat selamat karena kecerdasan Mulan. Pemberontak kalah karena ketuanya dibunuh oleh Mulan. Kaisar memberikan hadiah untuk menjadi prajurit tertinggi di kerajaan. Namun dia tolak. Dia mengatakan, "kehadirannya disitu untuk membuktikan pada keluarganya bahwa dia bisa mengabdi. Dia juga bukan aib bagi keluarganya." Dia pun pamit ingin pulang dan kembali pada keluarganya.
Pesan moralnya, potensi seseorang tidak bisa dibatasi oleh jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak untuk menjadi yang dia inginkan. Perempuan pun bisa bekerja sesuai bidang yang dikuasainya. Ya, meski nantinya ketika menikah perempuan pasti bertemu dengan urusan sumur, kasur dan dapur. Namun itu bukan alasan perempuan dibatasi karyanya, potensinya dan keterampilannya. Jadi tetaplah bercita-cita tinggi. Wujudkan cita-cita itu. Tetaplah berkarya.
Sekian
Karawang, 08-10-2020

Komentar
Posting Komentar