Hukum Merayakan Muludan

Oleh: Samsu Wijayanto


Malam ini adalah malam dimana masuknya tanggal 12 Rabiul Awal. 12 Rabiul Awal menjadi tanggal bersejarah bagi umat manusia. Ya, lahirnya Nabi Muhammad SAW. Nabi terakhir dan paling mulia menurut umat Islam. Oleh karena itu seyogyanya umat Islam pasti merasa senang dan gembira.

Dalam menyikapi kegembiraan ini, bermacam cara dilakukan. Beberapa orang merayakan dengan ramai, mendirikan panggung, mendatangkan penceramah, dan bersolaeat bersama. Sebagian yang lain merayakan dengan sederhana, hanya bersolawat di masjid masing-masing dan mendengarkan pengajian, lalu makan-makan. Ada juga yang justru menyalahkan dan/atau membid'ahkan kedua kegiatan di atas.

Perdebatan mengenai perayaan hari kelahiran Nabi alias maulidan atau muludan sudah terjadi sejak lama. Penyelesaiannya pun sudah lama terjawab. Jika ditanya mengapa merayakan? Sedangkan Nabi tidak menyuruhnya. Jawab saja, "apakah Nabi melarangnya?" Itu sebenarnya sudah beres dan selesai. Hargai setiap jawaban dan pendapat dari setiap kepala.

Namun beda kepala beda pula isinya. Beda isi beda pula wataknya. Ketika jawaban itu tidak mempan, maka saya ada jawaban menarik yang diungkapkan oleh seorang Habib. Habib ini bukan habib sembarangan. Dia berdakwah lewat channel YouTubenya yang bernama Jeda Nulis. Segmen dakwahnya adalah para pemuda-pemudi kekinian yang memiliki beribu pertanyaan yang menyesatkan dan perlu diluruskan. Beliau adalah Habib Husein Ja'far Al Hadar.

Beliau mengatakan, merujuk pada surat Yunus ayat 58 dikatakan bahwa Katakanlah (Muhammad): "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." Kita diperintahkan oleh Allah untuk bergembira atas datangnya karunia dan rahmat kepada kita sekecil apapun. Sedangkan lahirnya Nabi Muhammad adalah karunia dan rahmat terbesar dari Allah untuk kita. Sudah sepantasnya kita bergembira dan mengekspresikannya.

Menambahi pernyataan beliau, saya pernah dengar guru saya di pondok mengatakan, "kalau tidak dilahirkan atau diciptakan Nabi Muhammad niscaya Allah tidak akan menciptakan dunia seisinya." Nah, harusnya adanya muludan menjadi ajang tasyakur dan tafakkur bahwa dengan adanya Nabi Muhammad kita ada dan diciptakan. Bukan malah menyalahkan.

Habib Husen juga mengatakan bahwa, perayaan muludan termasuk ibadah 'ghairu mahdloh'. Bisa dilakukan tanpa harus ada dalil yang memerintahkannya, asal tidak dilarang. Selama Nabi tidak melarang, ya boleh-boleh saja. Selain itu, Nabi adalah pribadi yang sangat rendah hati. Karena pernah suatu ketika ada yang memanggil Nabi dengan sebutan "wahai sebaik-baik makhluk!" Nabi menjawab, "itu gelar untuk Nabi Ibrahin AS. (HR. Muslim)"

Adanya hadis di atas membuktikan bahwa Nabi rendah hati. Bukan pribadi yang narsis. Kita tahu bahwa Nabi itu mulia. Nabi itu dijaga dari segala dosa (ma'sum). Nabi itu sebaik-baik manusia. Namun beliau tidak mau mengakuinya. Jika begitu apakah mungkin Nabi mengatakan, "wahai semuanya rayakanlah hari lahirku!" Nabi Muhammad tak senarsis itu ferguso. Nabi kok disamakan dengan kita. Beda jauhlah.

Oleh karena itu, sebagai umatnya yang baik dan taat kita harus sadar diri dengan posisi kita. Kita rayakan kelahirannya dengan suka cita, gembira dan kemeriahan. Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Jika tidak mau merayakan, ya sudah. Duduk diam, dan tidak perlu berkomentar apapun. Nafsi-nafsi saja.


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian


Karawang, 28-10-2020


Silakan kunjungi YouTube beliau. Keren dan menarik.

https://youtu.be/ZQH0D7EowOs

Komentar

  1. Tulisan yang sarat ilmu. Di desaku setiap malam merayakan maulid nabi dengan suka cita. Mantab

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti ibu dan yg lain sudah mengamalkan isi al-Qur'an. Subhanallah 😁👍

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit