Tulislah Ingatanmu, Sebelum Namamu Tertulis sebagai Ingatan di Batu Nisan

Oleh: Samsu Wijayanto


Hari ini tidak ada sesuatu yang menarik untuk dituliskan. Aktivitas hanya itu-itu saja. Pagi ke sekolah untuk memberikan tugas daring, siang jumatan, sore mengajar les privat dan malam istirahat. Kurang lebih aktivitas saya tiap hari seperti itu. Oleh karena itu, saya memilih menulis sebagai obat kejenuhan. Sebab dalam menulis saya secara tidak langsung melakukan dua hal penting. Pertama menambah wawasan lewat membaca. Kedua mengikatnya dengan tulisan.

Mengapa menulis itu penting?

Menulis menjadi penting karena keterbatasan ingatan manusia. Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan di blog prof Ngainun Naim. Judulnya "Banyak Membaca Banyak Lupa." Meski dalam tulisan beliau dikatakan bahwa itu hanya guyonan atau candaan. Namun ada benarnya. Ketika seseorang mengisi sesuatu ke dalam otak, maka lambat laun akan terlupakan. Baik karena tertumpuk ingatan lain atau karena faktor usia yang menyebabkan kinerja otak melemah.

Nah, disinilah peran penting menulis. Sesuatu yang telah kita dapat lalu masuk ke otak dan menjadi ingatan hendaknya dilanjutkan dengan tulisan. Bagi pemula, tulisan awal tidak harus baku dan tersusun rapi. Tuangkan ingatan itu mengalir seperti bercerita dalam buku diary. Dengan begitu kegiatan menulis pun akan berjalan. Seiring berjalannya waktu, catatan itu pasti akan terpakai. Entah sebagai motivasi dan inspirasi atau bahkan menjadi pelajaran bagi diri sendiri untuk menghadapi masa yang akan datang.

Sekarang, di zaman modern dengan teknologi begitu canggih tidak ada alasan untuk mengatakan "menulis dimana? Menulis pakai apa?" Setiap dari kita tentu sudah menggenggam 'smartphone'. Jaringan internet pun saya rasa tidak luput dari kebutuhan bulanan pembaca sekalian. Maka, manfaatkan keduanya sebagai media menulis. Tulis ingatan, hasil bacaan atau yang dilihat dan ditonton dalam fitur 'notes' smartphone' masing-masing. Kemudian masukan ke dalam blog. Jika masih beralasan tidak punya blog, media 'facebook' pun bersedia menampungnya. Tinggal kita mau atau tidak melakukan aktivitas menulis. Ditambah lagi, di Facebook apapun yang kita posting akan diingatkan ketika postingan itu tertimbun. Ya, seperti mantan yang lama terpendam lalu terbayang lagi, hehe.

Jadi jangan sia-siakan anugerah Tuhan berupa perkembangan zaman yang pesat ini. Dengan begitu kita tidak hanya jadi hamba yang bersyukur, tapi juga hamba yang berkembang dan produktif.


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian


Karawang, 16-10-2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit