Pretty Boys : Mengejar Isi, Bukan Sensasi

Oleh: Samsu Wijayanto


Beberapa hari lalu saya nonton sebuah film berjudul "Pretty Boys". Pretty Boys merupakan film yang tayang di bioskop pada 19 September 2019. Film ini disutradarai oleh dr. Tompi. Ini adalah pengalaman pertama untuknya sebagai sutradara, mengingat dia adalah seorang dokter, musisi dan pegiat literasi di narasi tv yang digagas oleh Najwa Shihab. Ini juga pengalaman pertama bagi para host acara tonight show di net TV. Lebih mengejutkannya, Najwa Shihab ikut ambil bagian dalam film ini. Sungguh kejutan. Namun meski semua pengalaman pertama, tidak membuat film ini kehilangan substansinya. Justru dengan adanya kolaborasi dr. Tompi, Najwa Shihab dan para aktor serta aktris yang serius membuat film ini menjadi fresh dengan 'guyonan' tipis dan tetap berbobot. 

Film ini menceritakan tentang dia orang pemuda yang mengacu nasib di Jakarta untuk menjadi sukses. Sukses menurut mereka adalah dapat meraih apa yang diimpikan oleh mereka. Impian mereka satu, yakni masuk acara televisi menjadi host terkenal. Dua pemuda itu adalah Rahmat (Desta) dan Anugrah (Vincent). 

Seperti kata dan pengalaman banyak orang  hidup di Jakarta tidak mudah. Butuh proses dan perjuangan ekstra. Begitu juga keduanya. Bekerja serabutan di pagi hingga sore hari, lalu malam bekerja di restoran. Pada akhirnya mereka menyatakan berhenti bekerja di restoran dan menjadi penonton bayaran. Awal menjadi penonton bayaran, mereka di minta maju ke depan dan menjawab sebuah pertanyaan dengan imbalan hadiah. Di sinilah awal karir mereka menjadi host

Namun ternyata mereka terjerumus pada situasi yang membuat dilema. Mereka berada disebuah acara yang memaksa mereka untuk berkarakter perempuan (maaf.ngebanci). Di satu sisi mereka menolak, di sisi lain mereka butuh sebagai batu loncatan. Dengan terpaksa mereka ambil. Jadilah mereka co-host.

Suatu hari, ketika mereka dinobatkan menjadi host utama mereka mendatangkan bintang tamu Najwa Shihab. Ketiganya membahas tentang nasib pertelevisian di Indonesia yang terancam punah karena adanya media youtube. Tema yang dibicarakan begitu serius, tapi lagi-lagi mereka harus tetap mempertahankan karakter perempuannya.

Kian lama nama mereka terkenal sebagai host terkenal dengan karakter demikian. Salah satu dari mereka terlena dengan hasil yang mereka dapat. Akan tetapi, pemuda satunya makin lama sadar. Hatinya menentang profesi yang dilakukannya. Akhirnya, mereka pecah. Acara yang mereka pandu pun tamat. -Lebih lengkap nonton saja. 

Intinya, ada dua pesan dalam film itu. Pertama, pernyataan Najwa Shihab dalam film tersebut yang mengatakan, perfilman dan pertelevisian di Indonesia tidak mati karena adanya Media sosial semacam youtube. Justru, media sosial adalah sayap tambahan agar seni peran dan kreatifitas anak Indonesia tetap berkembang serta terbang tinggi. Kedua, pertelevisian kita saat ini kurang lebih sama seperti isi film pretty boys. Apapun akan dilakukan demi 'ratting'. Tidak peduli sesuai dengan passion atau tidak. Tidak peduli sesuai nurani atau tidak. 'Ratting', ketenaran dan honor adalah kebutuhan utama. Namun itu tidak semua. Tidak semua aktor, aktris, host dan jajaran pertelevisian Indonesia seperti itu. Masih ada juga yang mengutamakan isi daripada sensasi.

Belajar dari film di atas, menulis pun harus mempertimbangkan isi. Tulisan yang baik memang tulisan yang selesai ditulis dan bisa dinikmati oleh pembaca. Namun pembaca pun menginginkan yang berisi, bisa menarik, seru, lucu, inspiratif, atau menguras emosi. Jadi perbanyak referensi bacaan untuk menghasilkan tulisan yang menakjubkan.

Demikianlah resensi film pretty boys. Mohon maaf jika sedikit spoiler. Namun saran saya jika penasaran dan ingin tahu keseruannya, tonton saja filmnya. 


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian


Karawang, 07-10-2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit