Catatan Duka: Kehilangan yang Mendalam
Oleh: Samsu Wijayanto
Pagi tadi saya dikejutkan dengan berita duka. Berita tersebut mengabarkan bahwa salah satu kyai tempat saya menimba ilmu di Ploso wafat. Beliau adalah KH. Fuad Mun'im Djazuli. Beliau merupakan putra keempat dari KH. Ahmad Djazuli Usman (pendiri pondok pesantren Al Falah, Ploso). Adanya berita duka ini tentu membuat sedih para santri, khususnya alumni yang pernah 'ngangsu kaweruh' dari beliau.
Awalnya saya tidak yakin dengan berita tersebut. Tapi setelah saya cek ulang status 'whatsapp' teman-teman alumni Ploso, ditambah lagi grup alumni begitu ramai. Barulah saya percaya dan yakin beliau telah berpulang. Berita itu ramai tersebar di media sosial sejak pagi. Sekitar jam 6 pagi.
Mengetahui berita tersebut, sesak memang rasanya dada ini. Bayangkan, setiap sore saya beserta santri lain selalu istiqomah menanti kehadiran beliau untuk memaknai kitab. Sekarang, suara beliau yang sedang membaca kitab tidak akan terdengar lagi saat sore.
Adanya berita ini tentunya membuat para santri dan alumni untuk takziah. Namun, dengan kondisi sekarang ini membuat para santri dan alumni tidak bisa mengiringi kepergian beliau. Beberapa menit beliau wafat, tersebar maklumat yang keluarkan pengurus pesantren yang tentunya disetujui pihak 'ndalem' (ahlul bait). Isinya, agar para alumni tidak datang untuk takziah karena kendala wabah. Cukup lakukan solat ghoib di rumah masing-masing. Dengan ta'dzim kami tentu melaksanakan maklumat tersebut, termasuk saya.
Melihat fenomena berpulangnya beliau dan kyai sepuh lainnya, seperti KH. Maimoen Zubair (Mbah Mun) menandakan bahwa dunia ini sudah tua. Kiamat mungkin tidak lama lagi. Sebab, salah satu tanda kiamat adalah hilangnya ilmu di muka bumi. Hilangnya ilmu karena kyai, ulama dan guru (ustadz) berpulang kembali pada-Nya (wafat). Semoga beliau para guru, kyai kita dan alim ulama yang pernah menorehkan karya dan ilmunya di hati kita mendapatkan predikat husnul khotimah dan mendapat tempat mulia, yaitu surga
Sekian
Karawang, 17-10-2020



Turut berdukacita. Dulu sering menjenguk adik yang ngantri di sana
BalasHapusDi Al falah induk apa di Al falah 2 Bu?
BalasHapus