Catatan Perjalanan: Penampilan bukan Segalanya, tapi Perlu
Oleh: Samsu Wijayanto
Sore ini, saya menyaksikan seorang penjual oleh-oleh di dalam bis. Dia menjajakan dodol Garut dan keripik kentang khas Bandung (katanya). Namun bukan soal barang jualannya yang jadi poin penting pembahasan tulisan ini. Melainkan, bagaimana cara dia menjajakan dagangannya.
Sebelum itu, saya sekarang ini sedang berada disebuah bis menuju Tulungagung. Ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Sehingga saya bertemu dengan penjual oleh-oleh itu.
Kembali ke topik
Dalam menjajakan dagangannya, penjual menyampaikan kata pembuka yang tidak biasa. Selain dia meminta maaf telah menganggu kenyaman perjalanan, dia juga menerangkan barang dagangannya. Tidak hanya itu, dia pun lengkap mendeskripsikan masing-masing barang dengan lancar tanpa berbelit. Bahasa yang digunakan pun ringan dan lengkap dengan kalimat persuasinya. Namun sayang, meski menjajakan barang dengan bahasa dan cara yang menarik orang-orang kurang berminat. Setelah saya amati ternyata kekurangannya ada pada pakaian yang dia kenakan. Dia mengenakan kaos hitam dengan celana sobek dibagian lutut. Mungkin ini yang membuat orang-orang kurang meliriknya, pikirku.
Don't judge books by cover. Ya, jangan menilai buku dari sampulnya. Jangan melihat orang dari luarnya. Kalimat itu selalu melekat dan selalu terjadi di masyarakat. Manusia tidak bisa dilepaskan daribkalimat tersebut, sebab manusia merupakan makhluk visual. Sesuatu yang tampak di depan matanya ada dinilai secara keseluruhan sampai akarnnya. Jadi penting sekali menjaga penampilan. Sesuaikan dengan keadaan.
Pesan pentingnya, pertama, menilai seseorang dari luarnya itu perlu. Tapi ingat, jangan berlebihan. Apalagi sampai terucap dan terdengar. Salah-salah bisa dipukuli oleh orang tersebut. Kedua, kemanapun dan dimanapun kita tidak akan lepas dari pasangan orang lain. Jadi yang kita kenakan mencerminkan diri kita. Ketika kita keluar rumah ke tempat yang belum pernah kita kunjungi dan memakai peci putih maka kita akan disebut haji. Sebaliknya, ketika kita pakai kaos oblong dan celana sobek, maka kita akan disebut atau dikira preman atau gelandangan.
Sekian
Cirebon, 04 November 2020

Perjalanan menjadi sebuah tulisan mantab
BalasHapus