Hikmah Ngobrol: Belajar dari Nandang "Si Tangan Ga Bisa Diem"

 Oleh: Samsu Wijayanto


Pagi tadi sekitar pukul 9 saya mengantarkan rekan sesama guru untuk mengikuti rapat di sebuah sekolah. Tidak jauh dari sekolah tersebut, saya melihat penjual capcin (cappucino cincau). Saya merasa tidak asing dengannya. Setelah diliat dari dekat ternyata dia adalah salah satu mantan karyawan orang tua saya dulu ketika jualan es teh poci. Nandang namanya.

Singkat cerita kami berdua ngobrol di lapaknya. Kami ngobrol panjang, mulai dari keadaan jualan, tanya kabar keluarga saya dan begitu juga sebaliknya. Namun dari semuanya, ada hal menarik yang saya tangkap. Dia membeli gitar listrik seharga 2 juta, lalu datang corona. Akhirnya gitar itu dibongkar olehnya. What? Saya melongo mendengarnya.

Ketika masih bekerja dengan orang tua, dia termasuk orang yang terampil. Istilah lainnya "tangannya ga bisa diem". Dia suka menggambar, memahat kayu menjadi suatu bentuk bahkan sampah kertas pun dia sulap menjadi sesuatu. Nah, ketika dia bercerita tentang gitar listriknya seharga 2 juta lalu dibongkar saya cukup heran. Akan tetapi, saya sudah menduga apa yang akan dia perbuat selanjutnya. Benar, gitar itu dibongkar untuk dipelajari cara membuatnya, setelah itu dia rakit lagi seperti bentuk semula. Nandang si "tangan ga bisa diem" ini lalu memungut potongan kayu pinus yang berada di belakang rumahnya. Jreng, kayu itu disulapnya menjadi gitar listrik. Saya takjub dengan keterampilannya yang luar biasa.

Saya sempat bertanya, "kok bisa bikin gitar listrik dengan cuma bongkar? Dan berapa lama?" Dia menjawab, "nya teu ngan ngabongkar gitar hungkul. Pan jaman ayeuna mah aya YouTube. Belajar didinya ongkoh. Terus nyieun gitar listrik teh 5 nepi 7 poean lah. (Ya ga cuma bongkar aja lah. Kan zaman sekarang ada YouTube. Belajar disitu juga. Terus kalau bikin gitar listrik itu 5 sampe 7 hari." Menurut saya, waktu segitu untuk pemula dan pertama kali membuat gitar cukup cepat. Selain itu, meski SD tidak lulus (kalau tidak salah) dia tidak buta teknologi. Kemajuan yang ada, justru membuatnya kreatif dan memajukan skillnya. Sungguh luar biasa.

Di rumahnya sekarang sudah ada 6 gitar listrik ( 1 sudah terjual) dan 1 gitar akustik. Semuanya buatan tangannya. "Semua karena Corona dan kepepet, katanya. Karena Corona dia tidak kemana-mana. Jualan capcin berhenti sementara. Pemasukan pun tidak ada. Sedangkan uang terlanjur dibelikan gitar 2 juta. Akhirnya jadilah karya. Luar biasa.

Setiap musibah pasti ada berkahnya. Tinggal dari sudut mana memandangnya. Adanya musibah ini juga tidak semata membuat kita hanya rebahan saja. Kita harus survive (bertahan) dengan skill yang kita miliki agar tetap produktif dan berkarya. Ingat, berkarya tidak melulu soal uang atau harta. Kebahagiaan batin pun termasuk dalam kebanggaan dalam berkarya. Jadi, tetap berkarya dengan yang kau bisa dan jadilah dirimu sendiri.


Sekian


Karawang, 02-11-2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit