Menghargai Sebuah Prinsip

Oleh: Samsu Wijayanto 


Setiap manusia memiliki prinsip dan keteguhan atas apa yang dia yakini. Sebagai manusia yang berbudi, tidak elok jika memandang remeh, menghalangi dan memaksa seseorang keluar dari prinsip atau keteguhan hatinya.


Di karawang, kebanyakan orang (tidak semua) berpandangan bahwa kerja di Karawang, mendapat gaji besar hanya bisa masuk dengan menggunakan uang. Tidak sedikit jasa dibidang ini bertebaran di Karawang. Jasa ini dibalut dengan lembaga yang dinamana LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Adanya LSM di Karawang bukan rahasia lagi. Orang dari berbagai daerah yang ingin berkiprah di dunia kerja khususnya di PT di Karawang pasti tidak lepas dari soal uang. lebih parahnya, sampai ada statemen "kerja zaman sekarang apalagi di Karawang kalau tidak pakai uang ga akan mungkin di terima, walaupun nunggu sampai tua."


Mendengar langsung kata-kata ini rasanya sungguh miris. Sadar atau tidak, sengaja atau tidak sebenarnya tindakan tersebut merupakan suap. Bukankah sudah jelas dalam pandangan agama Islam, "barang siapa yang menyuap dan menerima suap maka tempatnya di Neraka." Selain itu, mari kita bayangkan dan berpikir logis. Kita bekerja supaya mendapatkan uang (upah) untuk mencukupi kebutuhan. Lalu kita bekerja karena kita butuh uang, lantas mengapa kita harus mengeluarkan uang sedangkan kita sebenarnya butuh dengan uang itu. Kalau begitu, mending lebih baik uang itu dipakai untuk modal usaha. Daripada menyuap kerja yang jelas dosanya, dan sebentar masanya.


Di atas sebenarnya jelas ada dua kubu, yakni kubu yang meyakini bahwa kerja itu harus pakai uang. Sedangkan kubu lainnya meyakini bahwa masih ada banyak jalan (pekerjaan) yang tidak harus pakai uang. Toh, lebih murni dan enak di hati. Keduanya adalah prinsip. Prinsip yang tidak boleh sedikitpun orang mengusiknya. Tidak boleh juga sampai memaksa orang lain untuk mengikuti prinsip yang tidak dianutnya. Kalaupun kurang suka atau tidak sesuai dengan agama, cukup ingatkan dan tegur. Jika tidak bisa dan tidak mau diingatkan, doakan saja semoga mendapat hidayah.


Mudah-mudahan bermanfaat


Karawang, 18 November 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit