Pentingnya Membaca Sebelum Bicara

Oleh: Samsu Wijayanto


Bicara atau ngomong merupakan aktivitas yang dikuasai oleh setiap orang. Siapapun bisa bicara sesuai keinginannya. Bisa memakai bahasa Indonesia, bahasa daerah atau bahasa asing. Bicara pun bisa dilakukan kepada siapa saja, baik yang sudah lama dikenal ataupun orang yang baru ditemuinya diperjalanan. Namun tidak semua orang memiliki mental yang baik untuk berbicara. Ada beberapa yang masih terbata karena gugup, ada juga yang lancar-lancar saja karena memang sudah terbiasa.


Berbicara itu ada seninya. Semua orang mungkin bisa berbicara. Tapi tidak semuanya bisa berbicara di depan umum sesuai dengan keinginannya, lalu tertata bahasanya dan tidak gugup. Selain itu, jika berbicara dengan orang yang kompetitif, harus hati-hati. Karena dia tidak akan mau kalah dan cenderung membatah dan mendebat apa yang kita katakan. Entah topiknya berat atau ringan. Tetap saja dibantahnya.


Hal di atas saya rasakan betul. Selama beberapa hari kemarin saya berada di Tulungagung. Saya menginap di salah satu kos yang cukup jauh dari kampus IAIN. Di sana saya menumpang di kos adik tingkat. Banyak yang menarik yang saya dapatkan di sana. Di kosnya, banyak sekali buku yang bisa saya konsumsi. Selain itu, kita beberapa kali terlibat diskusi (katanya) yang menarik dan menambah wawasan saya. Namun, dibalik itu semua saya kurang "sreg" karena obrolan itu bukan seperti diskusi tapi lebih kedebat. Dimana satu pihak mendominasi karena banyak wawasan, satu pihak akan didominasi dan disudutkan dengan berbagai cara. Mungkin karena dia masih muda, semangat menggebu dan terbawa suasana bahwa dia juara 2 lomba debat, jadi saya maklumi.


Nah, dari sini saya menangkap hal penting, pertama dalam berbicara tidak boleh asal. Apalagi jika berbicara soal yang serius. Perlu kehati-hatian. Kedua perbanyak membawa sebagai bahan pembicaraan. Sebab sesuai pepatah, "buku adalah jendela dunia". Dengan membaca, tanpa harus keliling dunia kita bisa mengetahui keindahannya, hal yang luar biasa di dalamnya, bahkan sejarah dunia itu sendiri.


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian


Semarang, 08-11-2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit