Hikmah Merenung: Antara Cemburu dan Mendua

Oleh: Samsu Wijayanto

Setiap orang memiliki cemburunya masing-masing. Ada yang cemburu karena pasangannya terlalu asyik dengan hobinya, asyik dengan pekerjaannya, bahkan asyik dengan orang lain. Cemburu hadir secara mengalir. Bukti bahwa dia cinta dan ingin fokusnya tidak terbagi. Jadi cemburu tidak salah dan orang yang cemburu tidak bisa disalahkan.


Cemburu memang tidak salah, akan tetapi jangan berlebihan. Berlebihan merupakan sesuatu yang dibenci Tuhan. Seseorang yang cemburunya berlebihan cenderung akan mengekang dan membuat pasangannya tidak nyaman. Cemburu boleh, asal sewajarnya.


Menyoal cemburu, tidak hanya manusia yang mengalaminya. Tuhan pun punya rasa cemburu terhadap hamba-Nya. Dalam ajaran Islam, Allah tidak suka disekutukan (diduakan). Orang-orang yang menyekutukannya disebut dengan syirik. Allah akan murka dengan orang yang syirik.


Cemburunya Allah bukan semata, Dia ingin disembah atau dicintai. Namun Allah mengajarkan kepada kita tentang kesadaran balas budi. Allah yang memberi kehidupan, kenikmatan dan rasa aman. Sebagai hamba sepatutnya menanamkan benih cinta dan ta'dzim pada-Nya. Jangan menoleh pada yang lain. Apalagi sampai memuja selain Dia. Tentu dia akan marah.


Begitu juga dalam menjalin hubungan. Sepantasnya bersyukur atas karunia yang telah Tuhan berikan, yaitu sebuah hubungan dan harapan. Maka, jaga dengan baik, perbaiki jika salah dan perjuangankan jika ada godaan. Ketiganya lebih baik daripada menyerah pada keadaan dan pasrah dengan melepaskan yang ada lalu dekat dengan yang lain. Manusia saja tidak suka disekutukan, apalagi Tuhan.


Sekian


Karawang, 18 November 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit