Bolehkah Mengaplikasikan Hadis Daif (Lemah)?

Oleh: Samsu Wijayanto


"Hei, kamu kok melakukan itu. Itu kan hadisnya dloif. Hati-hati".


Beberapa waktu lalu, saat saya vakum menulis saya mendapat teguran demikian. Saya ditegur karena melantunkan puji-pujian "Allahumma bariklana fi rajaba, wa sya'bana wa balighna Ramadhana" di masjid dekat rumah. Dia bukan orang sekitar sini, alias musafir yang entah dari mana dan baru pulang kerja dari sebuah pabrik. Karena saya tidak ingin ada keributan di masjid, akhirnya saya akhiri pujian tersebut lalu lekas ikamah.

Setelah selesai salat, saya dekati orang yang menegur saya tadi. Saya berterima kasih atas tegurannya. Saya pun bertanya, "maaf pak, apakah puji-pujian saya tadi mempengaruhi sah atau tidaknya salat?" Dia menjawab, "tidak". Saya bertanya lagi, "apakah puji-pujian tadi mengandung unsur akidah atau tauhid?" Jawabnya pun tetap, "tidak". Akhirnya saya perjelas dan jabarkan semua yabg saya tahu agar tidak ada kesalah pahaman.

"Menurut yang saya pelajari, hadis daif (lemah) boleh untuk diamalkan. Apalagi hanya sebatas puji-pujian. Namun ada beberapa syarat diperbolehkannya, yakni:

1. Tidak dalam masalah halal haram hukum fikih

2. Tidak dalam masalah akidah

3. Bukan diriwayatkan dari perawi yang kadzib (pendusta) 

4. Masih bernaung dalam hadis sahih atau dalam payung hadis sahih.

5. Hanya untuk fadloilul a'mal saja.

Tadi ketika saya bertanya pada bapak, bapak jawab tidak. Berarti yang saya lakukan masuk dalam syarat di atas." Jelas saya

Mendengar penjelasan saya tampak kurang menyenangkan dan minta maaf lalu berpamitan. Saya hanya geleng-geleng kepala. Dalam hati saya ingin diskusi dna ingin tahu jawabannya apa. Dia malah pergi.

Kasus di atas saya bagikan karena penting kita tahu bahwa hadis sekelas daif (lemah) pun bisa dan boleh untuk diamalkan, selagi memenuhi syarat di atas. Untung saja saya ingat materi kuliah mata kuliah "Ulumul Hadis" dari Dr. Salamah Noor Hidayati. Jadi saya tidak kebingungan dalam menghadapi realita semacam ini.


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian 


Karawang, 19 Januari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit