Menyingkap Makna Bhineka Tunggal Ika
Oleh: Samsu Wijayanto
Bhineka Tunggal Ika
merupakan frasa yang sangat populer ditelinga setiap warga negara Indonesia.
Kepopuleran kata Bhineka Tunggal Ika karena frasa tersebut menjadi
semboyan dari negara Indonesia. Bhineka Tunggal Ika berasal dari bahasa
jawa kuno yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Apabila frasa
tersebut dimaknai secara terpisah maka akan menjadi tiga kata, yaitu bhineka,
tunggal dan Ika. Bhineka memiliki arti beraneka ragam. Dalam
bahasa sanskerta “neka” berarti macam dan menjadi kata yang dikenal dengan
“aneka”. Kemudian kata tunggal memiliki arti esa atau satu. Sedangkan
kata Ika berati jua atau juga.
Semboyan di atas sesungguhnya digunakan untuk menggambarkan adanya persatuan
dan kesatuan masyarakat Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara yang kaya atau
keaneka ragam akan bahasa, budaya, suku, bangsa, agama dan keyakinan. Adanya
keaneka ragaman tersebut membuat pemerintah Indonesia kesulitan dalam
mengontrol dan mengawasi kesejateraan serta perdamaian masyarakat Indonesia,
maka diciptakanlah semboyan tersebut. orang yang menciptakan semboyan tersebut
adalah Sultan Hamid II dari Pontianak, Kalimantan Barat, yang kemudian
disempurnakan oleh Presiden pertama yaitu Ir. Soekarno dan diresmikan
pemakaiannya pada lambang negara Indonesia (burung garuda) pertama kali pada
sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950.
Dengan adanya semboyan negara Indonesia yang telah disahkan oleh
Presiden pertama Indonesia, maka warga Indonesia harus bisa dan mau mengamalkan
isi semboyan tersebut. Apalagi isi semboyan tersebut didukung dengan adanya
poin ketiga yang berada dalam Dasar Negara yaitu Pancasila, “Persatuan
Indonesia” begitulah bunyinya.
Jelas bahwa Indonesia sangat dianjurkan untuk erat dalam
persatuannya. Dengan adanya persatuan dan kesatuan di Indonesia, masyarakat
akan dengan mudah untuk bergaul, bersosialisasi dan mudah juga untuk saling
mengenal. Semisal di pulau Jawa, bahasa, suku, budaya dan agamanya sudah
banyak. Ada suku Betawi dengan bahasa betawinya, suku Sunda dengan bahasa
sundanya, suku Jawa dengan bahasa jawanya. Bahkan bahasa jawa ada dua macam,
yaitu bahasa jawa tengahan –dikenal dengan bahasa ngapak,yang identik
dengan pengucapan a- dan bahasa jawa timuran –akrab disebut boso jowo, yang
identik dengan pengucapan o-. Belum lagi jika beralih daerah ketimur, ada
Madura dengan bahasa maduranya dan Banyuwangi sektarnya dengan bahasa
banyuwangian (bahasa osing). Nah, begitulah banyaknya suku dan bahasa di pulau
Jawa, sudah banyak sekali. Apalagi jika melihat Sumatra, Sulawesi, Kalimantan
dan Papua Nugini (Irian jaya). Itu baru pulau-pulau besar di Indonesia, belum
lagi jika ditambah dengan pulau-pulau kecil yang ada. Kemungkinan bahasanya pun
berbeda-beda. Kemudian bayangkan jika mereka berkumpul dalam satu tempat
kemudian dengan egonya memakai bahasa daerah masing-asing, aka yang terjadi
adalah mereka tidak akan bisa mengenal satu sama lain dan tidak akan memahami maksud mereka satu
persatu. Jadi dengan adanya bahasa Indonesia yang baku dan sesuai EYD, maka Bhineka
Tungga Ika akan terwujud.
Namun pada kenyataannya persatuan tidak sepenuhnya
terwujud. Memang jika dilihat secara kasat mata persatuan dari segi bahasa dan
budaya sudah bisa diwujudkan, tetapi persatuan dalam segi keagamaan dan
keyakinan inliah yang sulit untuk diwujudkan. Padahal agama terbesar dan banyak
pengikutnya di Indonesia hanya empat yaitu Islam, Kristen, Hindu dan Budha.
Akan tetapi kasusnya sangat panjang dan berkelanjutan. Bahkan lebih parahnya
satu agama bisa berkonflik hanya karena berbeda cara pandang atau aliran. Lalu
dimana semboyan negara ini? Apakah diabaikan begitu saja sebagai hiasan pada
lambang negara Indonesia?
Tentu tidak, semboyan itu sangat perlu untuk diamalkan. Karena
dengan adanya Bhineka Tunggal Ika maka persatuan akan terwujud. Ketika
persatuan sudah terwujud, maka akan saling mengenal dan akhirnya tumbuh
kerukunan dan persaudaraan akan terjalin. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujuraat
ayat 13 yang berbunyi:
$pkr'¯»t
â¨$¨Z9$# $¯RÎ)
/ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&ur
öNä3»oYù=yèy_ur
$\/qãèä© @ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9
4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã
«!$# öNä39s)ø?r&
4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã
×Î7yz
ÇÊÌÈ
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dari
firman Allah di atas, seharusnya sesama umat islam mampu saling mengenal.
Itulah tujuan Allah menciptakan manusia dengan berbeda-beda baik suku, bahasa
budaya, agama dan keyakinan. Rasa saling mengenal tidak akan terjadi jika antar
suku, antar agama atau antar keyakinan masih saja beradu fisik atau berkonflik.
Rasa saling mengenal akan muncul jika satu sama lain sudah bisa bersatu dan
bertoleransi. Kata persatuan tidak sama dengan kata persamaan. Persamaan
berarti kita harus sama dan mengikuti apa yang mereka lakukan, tetapi persatuan
berarti kita harus bisa bersatu dalam kehidupan bermasyrakat, bersatu dalam
satu sosial dan bersatu dalam hal ekonomi. Sehingga dengan begitu dalam hidup
bermasyarakat, bersosial, dan bernegara kita akan damai tanpa konflik dan
perseturuan.
“Tidaklah
penting apa agamamu dan apa sukumu, jika kau bisa berbuat baik kepada semua
orang, maka orang tidak akan menanyakan apa agamamu”
(K.H.
Abdurrahman Wahid akrab dipanggil Gus Dur)
Komentar
Posting Komentar