MENGAMBIL HIKMAH DARI SEBUAH AKSARA

*soe

“Hana caraka” artinya “ada utusan”
“Data sawala” artinya “sedang bertengkar”
“Padha jayanya” artinya “sama-sama kuatnya”
“Maga bathanga” artinya “sama-sama menjadi mayat (mati)”

Tidak banyak alasan bagi saya menulis tulisan ini. Menurut saya, yang perannya sebagai penulis hanya mengetahui aksara ini memiliki arti yang begitu dala dalam kehidupan, khususnya dalam melatih kita untuk menjaga amanat dan kesetiaan.
Aksara jawa yg sebagian orang kenal dgn sebutan huruf hanacaraka ternyata menyimpan sejarah kelam di dalamnya. Sejaranya berawal dari kisah Aji Saka dan empat orang abdi atau pengikutnya.
Sebenarnya kisah ini sudah pernah diceritakan oleh guru-guru bahasa jawa kita. Tapi juga tidak banyak guru bahasa jawa yg mengetahui kisah ini. Maka dengan datangnya selayang status mudah-mudahan dapat mengingatkan kembali dan menambah pengetahuan pembaca.
Diceritakan ada seorang putra raja dari tanah hindhustan. Ia bernama Aji Saka. Dia memiliki cita-cita yaitu ingin menjadi seorang pendeta, karena kecintaannya pada berbagai ilmu pengetahuan dan senang mengajarkan ilmu-ilmu yang dimilikinya.
Suatu ketika Aji Saka ingin melakukan suatu perjalana ke pulau Jawa. Ia pun didampingi oleh empat abdi. Mereka ialah Duga, Prayoga, Dora, dan Sambada. Ketika sampai di pulau Majethi untuk beristirahat. Aji Saka menitahkan pada dua abdinya yaitu Dora dan Sambada untuk tetap tinggal di pulau Majethi dgn ditinggalinya sebuah pusaka yg berupa keris. Mereka tidak diperkenankan Setelah titah itu dihaturkan, Ia bersama dua abdinya yg lain pun melanjutkan perjalanannya kejawa.
Akhirnya mereka sampai di Jawa, tepatnya di kerajaan Medhang Kamolan yang dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar dan Patih Tengger. Dengan pengetahuan dan wawasan yang luas, Aji Saka dijadikan seorang guru diwilayah kerajaan tersebut.
Singkat cerita, Aji Saka dinobatkan sebagai seorang raja karena kesaktiannya. Ia mengangkat kedua abdinya yaitu Duga dan Prayoga menjadi bupati dengan gelar Tumenggung Duga dan Tumenggung Prayoga. Pasca dinobatkannya Aji Saka menjadi raja, Ia dijuluki dengan Prabu Widayaka.
Setelah sekian lama, Ia bermukim di pulau Jawa. Ia akhirnya ingat dengan kedua abdinya yg masih setia menjalankan titahnya. Dora dan Sambada masih di pulau Majethi dengan penuh kesetiaan mereka menunggu titah itu berakhir. Yang namanya manusia memiliki ketidaksempurnaan dan keterbatasan kesabaran, akhrinya Dora memutuskan untuk pergi menemui Aji Saka, karena ia tahu bahwa Aji Saka telah menjadi raja kerajaan Medhang Kamolan. Dora mengajak Sambada untuk ikut menemui Aji Saka, akan tetapi Sambada sangat setia dan sabar dalam menjalankan titah Aji Saka. Pergilah Dora seorang diri menuju kerajaan Medhang Kamolan.
Sesampainya disana Dora bertemu Aji Saka, dan kemudian setelah itu Aji Saka mengutus Dora untuk menjemput Sambada agar tinggal di kerajaan Medhang Kamolan dan seraya mengambil pusakanya. Pergilah Dora ke pulau Majethi.
Setelah sampai pulau Majethi dan bertemu dgn Sambada, Dora mengutarakan maksud dari kedatangannya. Sambada pun tetap kukuh dgn kesetiaannya terhadap titah Aji Saka. Hingga akhirnya terjadilah perdebatan dan berujung dgn pertumpahan darah antara keduannya, karena keduanya sama-sama kuat dan sakti. Keduanya mati dalam sebuah pertempuran untuk mempertahankan kesetiaan terhadap tuannya.
Aji Saka merasakan ada yg janggal dgn keadaan dua abdinya, karena dirasa begitu lama tidak kunjung kembali. Dengan todak sabar Aji Saka memerintahkan Duga, dan Prayoga untuk memeriksa kedaan Dora dan Sambada. Betapa kagetnya Duga dan Prayoga ketika mendapati Dora dan Sambada telah mati akibat peperangann keduanya.
Akhirnya dengan sedih mereka kembali menghadap Aji Saka. Aji Saka pun merasa bersalah karena telah membuat kedua abdinya mati karena setia akan titah Aji Saka. Sebagai rasa hormat dan penghargaan kepada kedua abdinya, ia menciptakan sebuah aksara, yg dari dulu sampai sekarang dikenal dgn sebutan aksara Jawa. Aksara ini ia buat sebagai surat yg ditujukan kepada kedua abdinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit