Hikmah Pandemi: Berliterasi karena Pandemi

Oleh: Samsu Wijayanto


Setiap orang punya hobi masing-masing. Si A tidak bisa dipaksakan untuk hobi dalam bidang musik, misalkan. Begitu juga si B, tidak bisa dipaksakan untuk hobi dalam literasi (membaca dan menulis). Masing-masing punya passion tersendiri.

Di era digital saat ini, media sosial begitu banyak bertebaran dimana-mana. Ada YouTube, Instagram, Twitter, Facebook, Patch, WhatsApp dan masih banyak lagi. Semua bisa sangat membantu hobi yang kita miliki. Bagi yang hobi musik, bisa memainkan musiknya dan unggah di YouTube, Instagram atau Facebook. Hobi fotografi, lemparkan saja hasil jepretan ke Instagram atau Facebook. Namun ada saru hobi yang mungkin kurang diminati, ya literasi.

Menurut pengalaman saya, hobi literasi kurang diminati. Baik oleh kalangan muda atau pun tua. Oleh pelajar maupun pengajar. Mengapa demikian? Banyak pelajar mulai dari kelas 3 hingga 6 mengeluh jika disuruh membaca, apalagi menulis. Ada yang bilang capek, pegal malah ada yang bilang bosan.

Begitupun pengajar, banyak saya amati dari rekan kerja saya kurang 'sreg' dengan literasi. Buktinya mereka lebih nyaman berlama-lama di aplikasi tiktok, Instagram bahkan aplikasi belanja online seperti shopee. Tidak ada yang salah dengan semua itu, saya sudah katakan masing-masing punya hobi atau passionnya tersendiri. Tidak bisa kita salahkan atau paksakan. Hanya saja, sangat disayangkan.

Namun, dengan adanya pandemi ini para pelajar dan pengajar secara tidak sadar menyelami literasi. Pengajar mulai belajar materi lain selain di buku. Mereka membuka google dan search materi lain di blog. Pelajar pun demikian, mereka terpaksa belajar dengan membaca blog yang dikirimkan gurunya atau merangkum materi dari video yang dikirimkan gurunya. Menurut saya, ini sebuah kemajuan yang keren.

Ya, begitulah tabiat manusia akan menyelami jika ada paksaan, akan menyukai jika ada tekanan. Termasuk saya sendiri yang akhir-akhir ini agak sulit untuk menulis dan mengumpulkan semangat untuk membaca.


Mudah-mudahan bermanfaat. Mudah-mudahan setelah pandemi ini berakhir perubahan yang sudah baik tetap terjaga.


Sekian


Karawang, 05 Februari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit