Hikmah Diciptakannya Tumbuhan: Konsep Dermawan

 Oleh: Samsu Wijayanto 


Tuhan menciptakan makhluk hidup di dunia ini begitu beragam. Ada manusia dengan kesempurnaan akalnya. Hewan dengan ketajaman instingnya. Tumbuhan dengan manfaatnya yang luar biasa, hingga manusia dapat bernafas karenanya dan alam pun stabil karena keberadaanya. Namun dari ketiganya, tumbuhanlah yang sering diabaikan. Keberadaannya dianggap kurang bermanfaat. Akibatnya manusia seenaknya sendiri menebangnya demi kepentingannya sendiri.

Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya. Begitu juga penciptaan terhadap tumbuhan. Tidak hanya banyak manfaat yang diberikan, melainkan tumbuhan merupakan media belajar dan renungan bagi umat manusia. Seperti konsep dermawan yang ditunjukan oleh tumbuhan singkong dan mangga.

Singkong ibarat manusia yang kikir. Dia suka menyembunyikan buah (hartanya) sedalam mungkin. Hingga orang tidak tahu apakah buahnya besar atau kecil. Karena kekikirannya, berdampak pula pada kehidupannya. Orang yang kelewat kikir akan enggan memberi. Bahkan dia pun akan kikir pada dirinya sendiri. Akibtanya tubuhnya pun kurus kering, terlihat seperti tidak subur. Padahal sesungguhnya dia punya buah (harta) di bawah tanah.

Sebaliknya, pohon mangga ibarat orang yang dermawan. Dia menampakkan buahnya (hartanya) untuk dinikmati orang sekitarnya. Dia akan memberikan buahnya kepada orang di sekitar baik dia meminta dengan kasar ataupun dengan baik-baik. Tetap akan dia berikan. Oleh karena itu, tubuh pohon mangga pun besar. Tanda keberkahan.

Ibarat di atas sesungguhnya saya dapat dari kutipan seorang dai di media sosial. Tema singkat tentang konsep dermawan sungguh menarik untuk diulas kembali. Tujuannya pertama menyebarkan kemanfaatan dan mengabadikan kebaikan.

Jadi intinya, barang siapa berderma Tuhan akan membalasnya. Jika Tuhan telah membalas, maka akan melimpah. Itulah yang disebut berkah.


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian


Karawang, 23-12-2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit