Pendidikan Anak: Menjaga Kejujuran dengan Ketegasan Dimasa Corona
Oleh: Samsu Wijayanto
Beberapa hari lalu tepatnya hari Senin, sekolah tempat saya mengajar mengadakan Penilaian Tengah Semester (PTS). Akan tetapi karena adanya pandemi, pengadaannya tidak seperti biasa. Biasanya PTS dilakukan di sekolah, sekarang pengerjaan di rumah. Soal diambil oleh orang tua masing-masing pada hari Sabtu. Setelah sepekan, soal dikumpulkan lagi. Tepatnya pada hari Sabtu tanggal 03 Oktober nanti.
Sejak dulu hingga sekarang, eksistensi PTS tetap sama. Eksistensi PTS bertujuan menguji kemampuan anak dalam memahami materi selama 3 bulan (setengah semester). Namun dengan adanya PTS yang dibawa ke rumah tidak menutup kemungkinan anak melakukan tindak kecurangan. Ya, seperti melihat buku catatan, buku paket bahkan googling (search via Google). Tanpa pengawasan yang baik, hal itu bisa saja terjadi. Apalagi jika kedua orang tuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Maka, kecurangan (mungkin) bisa terjadi. Jadi peran serta orang tua murid saat ini sangat besar. Demi menjaga eksistensi PTS dan mencetak anak menjadi pribadi yang jujur.
Fenomena di atas (suka tidak suka) pasti terjadi. Tapi tidak bisa dipungkiri, masih ada anak yang peduli dengan kejujuran dalam PTS. Seperti salah satu anak yang saya ajar, Afi namanya. Satu hari sebelum PTS dia mengirim chat pada saya. Dia bertanya, "pak boleh ga PTSnya lihat buku?" Dengan tegas saya jawab, "tidak".
Berhubungan dia anak yang kritis, dia bertanya lagi, "tapi bapak kan ga ada sama kita. Kalau kita lihat buku bapak ga akan tahu. Terus gimana pak?" Membaca chat darinya saya agak berpikir sebentar sampai-sampai dia chat lagi, "gimana pak?"
Akhirnya saya jawab, "silakan kamu chat di grup kelas yang anak-anak, bapak melarang kalian buka buku atau googling selama PTS. Kalaupun kalian lihat bapak tidak akan tahu. Tapi ingat, Allah Maha Tahu, Allah Maha Melihat. Allah tidak suka perbuatan curang yang kalian lakukan. Jika bapak lihat kalian curang, pasti bapak akan kasih hukuman, kan? Allah pun pasti demikian. Mending di hukum bapak apa di hukum Allah?" Jawab saya panjang-lebar. Chat pun diakhiri olehnya dengan kalimat, "iya pak, nanti aku bilangin temen-temen di grup. Supaya ga ada yang nyontek (istilah yang dia pakai). Terima kasih bapak."
Kejujuran terkadang perlu ketegasan. Bahkan perlu ancaman hukuman. Sebab, sudah menjadi tabiat bahwa manusia akan melakukan sesuatu jika ada balasan berupa kebahagiaan dan kesenangan; dan menjauhi sesuatu jika ada ancaman hukuman, siksaan atau kepedihan. Oleh karena itulah adanya Surga dan Neraka.
Demikian juga aak-anak, perlu sedikit rasa takut untuk melatih kejujuran. Akhirnya anak tahu dan sadar bahwa Allah melihat mereka. Allah tahu mereka jujur atau tidak. Kalau tidak jujur Allah akan memberi hukuman di Neraka, karena Allah tidak suka kecurangan. Sedangkan kalau jujur mereka akan masuk Surga dengan bahagia, karena Allah mencintai orang yang jujur. Dengan begitu anak-anak akan menjauhi kecurangan dan berlaku jujur. Itu harapan saya, masalah anak jujur atau tidak tugas guru dimasa pandemi dalam PTS ini adalah mengingatkan, percaya dan husnudzon.
Sekian
Karawang, 30-09-2020

Memang pembelajaran daring mungkin agak kurang efektif... semoga bisa belajar secara langsung lagi
BalasHapusBetul pak..
HapusSangat menyusahkan 😊
Aamiin
Arti penting nilai kejujuran.
BalasHapusTerkadang dgn keponakan juga saya tekankan betapa pentingnya nilai kejujuran. "Kalau ditanya jangan bohong, mending diceritakan saja yg sebenarnya. paklik lebih menghargai kejujuran, daripada ngeles kesana-kemari." Akhirnya mau cerita juga yg sebenarnya.
hehe,
Menurut pengalaman, anak akan cenderung berbohong untuk cari aman. Soalnya kalo jujur dia akan kena hukuman. Itulah yg salah. Harusnya hargai kejujuran anak dgn memaafkan dan berjanji agar tak mengulanginya. Kurang lebih begitu.
Hapus