Dasar Amal Soleh

Oleh: Samsu Wijayanto


Hidup di dunia merupakan proses. Proses dari awalnya tidak mampu menjadi mampu, tidak tahu menjadi tahu dan tidak bisa menjadi bisa. Bahkan ada beberapa orang yang berproses dari keburukan menuju kebaikan. Proses seperti ini biasa dikenal dengan istilah tobat.


Dalam perjalanannya, seseorang yang sedang bertobat pasti bertendensi pada akhirat. Dia tidak ingin hidupnya sia-sia di dunia. Tanpa tujuan yang jelas. Hanya hura-hura waktu dan harta. Oleh karena itu, taubat merupakan langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Tidak berhenti di situ, tahap selanjutnya yang harus dilalui untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah beriman dan beramal soleh. Beriman artinya yakin. Yakin bahwa taubat yang kita panjatkan diterima oleh Allah dengan diimbangi amal soleh sebagai sarana penebus dosa. Mengganti perbuatan buruk yang dulu pernah dilakukan dengan melakukan perbuatan baik (amal soleh).


Menyoal amal soleh, Jumat, 11 September 2020 pondok pesantren tempat saya mengajar kedatangan tamu agung. Kami kedatangan KH. Hasan Nuri Hidayatullah (Gus Hasan). Beliau ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat. Beliau datang dalam rangka silaturrahmi dan ingin melihat perkembangan pondok pesantren. Beliau juga tidak lupa memberikan nasihat dan tausyiah pada kami. Beliau mengatakan bahwa, "amal soleh adalah perbuatan yang baik yang di dalamnya didasari 4 perkara, yakni ilmu, niat yang baik, kesabaran dan keikhlasan."


Dalam beramal, ilmu memiliki posisi yang sangat penting. Tanpa ilmu, amal yang baik bisa menjadi batal bahkan salah-kaprah. Jadi sebelum beramal belajarlah terlebih dahulu tentang amal yang akan dilakukan minimal membaca atau bertanya pada orang yang lebih alim.


Niat pun memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan ilmu. Jika ilmu menentukan sah-tidak atau benar-salah dari sebuah amal, maka niat menjadi penentu baik-buruknya suatu amal. Contoh, kepala rumah tangga yang bekerja. Amal yang berupa "bekerja" sesungguhnya netral. Bisa baik, bisa juga buruk. Tapi, jika niatnya bekerja ini baik seperti mencari nafkah untuk istri dan anak. Maka bekerja menjadi amal soleh.


Terakhir, sabar dan ikhlas. Keduanya sulit dinilai karena tempatnya di hati. Hanya pelaku (orang yang beramal) saja yang tahu bahwa dia sedang sabar dan ikhlas. Akan tetapi, ada ciri khusus yang terlihat ketika seseorang bisa bersabar dalam beramal, yaitu adanya konsistensi. Ya, biasa kita kenal dengan istiqomah. Orang yang bisa istiqomah dalam menjalankan amal soleh sesungguhnya dia orang yang bersabar. Sedangkan ikhlas pasti sudah kita maklumi definisinya. 


Melakukan sesuatu hanya untuk dan/atau karena Allah semata. Bukan karena ingin pujian atau mengharapkan imbalan. Inilah yang paling sulit. Kalau dirasa sulit, minimal kita beramal karena ingin surga dan takut neraka itu sudah bisa dikatakan ikhlas (tingkatan rendah).


Intinya, dalam beramal tekankan 4 hal agar menjadi amal yang soleh, yaitu ilmu, niat yang baik, sabar, dan ikhlas.


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian


Karawang, 16 September 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit