Mengasah Kecerdasan Anak Saat Bayi
Oleh: Samsu Wijayanto
Setiap orang tua pasti mendambakan memiliki anak yang cerdas. Kecerdasan pada anak sebaiknya diasah sejak usia dini, yaitu saat golden age. Ya, mungkin saya kurang pas jika berbicara masalah ini karena saya sendiri belum memiliki anak. Jangankan anak, nikah saja belum. Akan tetapi, menurut buku yang saya baca, ya demikian. Saat golden age (usia emas) kira-kira di bawah 5 tahun anak mudah sekali dibentuk dan diasah.
Dalam buku "Mengasah Kecerdasan pada Anak" karya Ratna Wulan juga dikatakan bahwa "saat usia balita ke bawah adalah masa yang paling ideal untuk dibentuk dan diasah. Upaya pembentukan dan pengasahan ini melalui bermain (2011: 74)." Ya, para orang tua pasti mengerti bagaimana aktivitas anaknya saat usia itu. Bermain, bermain, dan selalu saja bermain. Namun, jauh sebelum itu, sifat aktif dan pasif anak ditentukan saat usia 0 sampai 9 bulan (biasa kita sebut bayi).
Perinciannya sebagai berikut:
Pertama, Anak di usia 0-6 minggu memiliki kemampuan untuk menerima rangsangan dari luar dirinya dengan menggunakan indera yang dimiliki bayi. Contoh saat bayi diberi jari orang tuanya, maka akan ia pegang. Begitu juga saat ibu akan menyusui, bayi secara langsung membuka mulutnya dan mencari ASI tersebut.
Kedua, usia 6 minggu sampai 4 bulan adalah tahap bayi sering melakukan aktivitas yang menyenangkan secara berulang-ulang. Misalnya, kita pasti kerap melihat bayi menghisap jempolnya sendiri. Lalu di lain kesempatan dia akan menghisapnya lagi. Bayi melakukan demikian karena menghisap jempol dianggap hal yang menyenangkan untuknya.
Ketiga, usia 4-9 bulan. Di usia ini, bayi memiliki daya resap untuk aktif yang lebih banyak dengan menggabungkan kedua tahap di atas. Bayi di usia ini akan cenderung menerima rangsangan dari luar lalu dia akan melakukan gerakan secara berulang-ulang apabila dia anggap pmenyenangkan. Contoh, orang tua atau kita (yang muda) pernah memberikan mainan yang bisa berbunyi ketika digoyangkan. Pasti oleh bayi akan digerakan terus-menerus secara berulang.
Rincian di atas menunjukan bahwa peran aktif orang tua menentukan aktif tidaknya anak saat dewasa. Apabila orang tua tidak sering mengajak komunikasi bayinya dan tidak memberikan mainan serta mengajaknya bermain, maka anak akan cenderung pasif. Tapi sebaliknya jika orang tua aktif, anak pun akan aktif.
Kesimpulannya, peran aktif dan orang tua yang cerewet menjadi keharusan agar anak terlatih aktif. Saya rasa pun tidak ada orang tua yang tidak aktif saat memiliki seorang bayi. Tinggal bagaimana mengatur waktu antara untuk anak dan pekerjaan.
Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi saya pribadi dan pembaca pada umunya.
Sekian
Karawang, 08 September 2020

Mantab...
BalasHapusMantab. Tahu ilmunya dulu baru nikah
BalasHapusHehe.. Iya Bu. Teori dulu. Praktiknya nanti setelah ketemu jodohnya.
HapusWah, alhamdulillah dapat ilmu baru buat bekal. :)
BalasHapusAlhamdulillah.. Semoga bermanfaat ya Nis.
Hapus