Catatan di Masa Sakit

Oleh: Samsu Wijayanto


Kebingungan dalam menulis amatlah wajar. Apalagi setelah sekian lama tidak menulis, tentu menyajikan beberapa rangkai kata menjadi kalimat pun akan tersendat. Seperti yang saya alami saat ini.

Sedikit bercerita:

Beberapa hari yang lalu, saya berada dalam kondisi yang kurang baik (sakit). Saat itu saya merasakan panas-dingin secara bergantian, pandangan berputar, sakit kepala ketika melihat terang cahaya, dan persendian terasa nyeri dan linu. Banyak yang berspekulasi bahwa saya mengalami tifus. Ada juga yang mengatakan saya terkena DBD. Malah ada yang menakut-nakuti bahwa saya tertular covid-19. Hingga saya merasa 'parno' saat mendekati instansi kesehatan seperti klinik, rumah sakit, dan puskesmas. Namun, bukan itu intinya, keadaan yang saya alami ini sungguh membuat saya berada dalam dua kebingungan.

Pertama, dalam hal menulis. Seorang penulis butuh penunjang. Bisa berupa latihan (telaten setiap hari) atau membaca beberapa sumber untuk menambah ide dan amunisi kata sebagai bahan tulisan. Hal tersebut bisa kita lakukan dan dapatkan dalam keadaan sehat

Kedua, dalam menyikapi suatu masalah. Seperti manusia pada umumnya, jika mendapati masalah pasti akan mereka tanyakan pada orang yang dikenal. Namun, menanyakan sebuah keadaan atau sesuatu hal harus kepada orang yang tepat alias ahlinya. Jangan tanyakan soal penyakit pada rekan mengajar. Jangan juga tanyakan masalah pendidikan kepada dokter. Jika sesuatu ditanyakan bukan pada ahlinya, yang terjadi bisa saja muncul ketakutan, kekeliruan, bahkan kesesatan.

Jadi kalau Anda sakit pergilah ke dokter ya, bukan ke orang pinter (red:dukun). Kalau menanyakan hukum agama, pergilah (sowan) ke kyai di pondok pesantren.


Sekian


Karawang, 09 September 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit