Bersama Kita Lawan Wabah Corona
"Sebaik-baik pemimpin adalah yang berani mengambil keputusan meski salah, daripada diam."
Kalimat di atas merupakan argumen yang disampaikan oleh Ridwan Kamil (Kang Emil), Gubernur Jawa Barat. Beliau menyampaikannya dalam podcast Dedy Corbuzier yang membahas tentang Corona atau pandemi covid-19 dan upaya pengadaan vaksin covid-19 yang sedang dilakukan oleh pemprov Jawa Barat. Menurut beliau, menjadi pemerintah di masa pandemi sangat sulit, karena pemerintah tidak hanya sibuk mengurusi rakyat, melainkan juga mencari cara mengatasi wabah covid-19 di Indonesia ini.
Adanya pandemi ini, ekonomi rakyat mengalami kekacauan. Pedagang dipaksa untuk tutup sementara demi menghindari kerumunan. Buruh dirumahkan dan dipotong gajinya. Akibatnya pemerintah harus menyediakan bansos (bantuan sosial) bagi rakyat yang terkena imbas dari pandemi ini. Hal ini dilakukan dalam rangka mengurangi beban dan kesulitan rakyat. Namun ada saja orang yang protes, "bansos di Indonesia pembagiannya ga jelas. Yang harusnya tidak dapat malah dapat, sedangkan yang harusnya dapat malah tidak dapat."
Menyikapi protesan dan nyinyiran rakyat semacam itu, Kang Emil menanggapi dengan santai. Menurutnya, rakyat Indonesia berbeda-beda kacamata dalam menyikapi pandemi ini. Pertama, kacamata politik. Rakyat yang memakai kacamata ini cenderung menyalahkan dan menganggap kurang terhadap apa yang sudah diputuskan pemerintah. Bahkan parahnya, orang tersebut akan menyalahkan orang lain yang telah memilihnya. Kedua, kacamata kemanusiaan. Kacamata ini lebih mulia dari yang pertama. Orang yang memandang dengan kacamata ini akan senantiasa berbuat sesuatu yang bermanfaat di tengah pandemi ini. Jika punya kelebihan harta, dia akan berderma. Jika tak ada harta tapi ada tenaga, dia akan menjadi relawan. Ketiga, kacamata keilmuan. Orang dengan kacamata keilmuan akan lebih banyak diam, mengamati dan belajar dari situasi yang ada. Tidak hanya itu, dia pun akan berbagi informasi yang diketahuinya. Tentunya yang bermanfaat dan edukatif. Orang yang memakai kacamata ini pun lebih peduli kepada lingkungan sekitar. Apabila ada yang tidak memakai masker, dia akan menegur atau mengingatkan orang yang lalai itu. Menurut saya, dari ketiganya kacamata kedua dan ketigalah yang baik dan perlu kita lakukan dimasa pandemi ini. Lalu dimanakah posisi kita? Kedua, ketiga atau malah yang pertama?
Kang Emil, pun bercerita bahwa dirinya pun mendapatkan pandangan negatif dari rakyatnya. Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa pemprov Jawa Barat sedang melakukan pengadaan vaksin dan sekarang sedang masa uji coba. Ternyata peminatnya sedikit. Akhirnya, Kang Emil berinisiatif ikut menjadi relawan uji coba. Keputusan ini diambil untuk menyukseskan uji coba vaksin tersebut. Lalu dengan keterlibatan Kang Emil, di dalamnya akan meyakinkan masyarakat bahwa ini baik-baik saja. Bukan hoax apalagi konspirasi. Namun keputusan dan niat baik Kang Emil tetap saja dinilai dengan kacamata politik. Ada saja orang yang mengatakan Kang Emil pencitraan, cari panggung lewat pandemi supaya dapat suara di pemilu yang akan datang. Kang Emil, menanggapi itu semua dengan argumen, "sebaik-baik pemimpin adalah yang berani mengambil keputusan meski salah, daripada diam. Kalaupun nantinya salah, kita bisa bersama-sama bangkit untuk memperbaiki kesalahan itu." Kang Emil mengibaratkan bahwa kita sedang berada di depan seekor singa. Pandemi ini ibarat singa di depan mata. Seorang pemimpin harus mengambil keputusan atau langkah supaya bisa selamat dari ancaman singa. Kalaupun akhirnya celaka, setidaknya sudah berusaha daripada diam saja tapi tetap mati. Mati konyol namanya.
Di masa pandemi ini, peran aktif keduanya (rakyat dan pemerintah) sangat penting. Jika mengandalkan pemerintah saja, mereka akan kewalahan. Jika hanya rakyat saja tanpa pemerintah, kita akan kebingungan. Jadi, adanya kerja sama sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, cara pandang kita terhadap situasi sekarang ini juga mempengaruhi mental dan psikis pemerintah. Rakyat yang hanya memandang ini dengan kacamata politik hanya akan memperkeruh suasana. Baiknya, pakailah kacamata kedua atau ketiga.
Sekian
Karawang, 29-09-2020

Mantab banget
BalasHapusTerima kasih Bu 😊
HapusSeperti itulah kondisi sekarang harus banyak bijak
BalasHapusKeren Mas Sam.
BalasHapusAlhamdulillah..
HapusMakasih nis
Mengunakan sudut pandang yang ketiga mawon pak....heheh
BalasHapusSiap pak. Pilihan yg sangat baik 😁
Hapus