Menghargai Hal Kecil dari Alam


::: Samsu Wijayanto :::

Kehidupan diciptakan dengan penuh keharmonisan, berpasangan meski dalam wujud yang berbeda. Tujuannya hanya satu, agar hidup ini bisa saling berdampingan satu dengan yang lain. Malam selalu berdampingan dengan siang untuk saling mengisi kekosongan, misalnya. Seperti juga manusia dengan alam. Keduanya sama-sama berdampingan dan saling membutuhkan. Manusia membutuhkan alam untuk hidup, begitu juga sebaliknya.

Namun dewasa ini hubungan manusia dengan alam menjadi kurang baik, tidak harmonis bahkan cacat. Tidak sedikit orang yang melakukan eksploitasi hutan hanya untuk mengisi perut dan kebutuhan pribadinya. Akibatnya, seperti cuplikan lagu dari Ebiet G Ade berjudul "Berita kepada Kawan". Kurang lebih beginilah liriknya :

"Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang"

Adanya bencana alam dan semacamnya bukan karena tanpa adanya sebab-akibat. Tidak akan ada asap, kalau tidak ada api begitulah peribahasa. Lantas, menjaga alam harus menjadi prioritas manusia agar kehidupan ini selalu harmonis. Hanya ulah manusia yang membuat alam marah.

Kalau dipikir-pikir, manusia tidak sepantasnya bangga dan sombong atas anugrah Tuhan berupa akal. Sehingga bebas mendaya gunakan akal untuk kepentingannya. Menurut saya, manusia tidak makhluk sosial, butuh terhadap orang lain. Manusia juga membutuhkan hal-hal dari alam, meskipun sedikit. Contoh kecil, saat hujan turun dan lebat sedangkan kita tidak membawa payung. Tiba-tiba melihat ada pohon pisang yang daunnya sangat lebat dan lebar. Lalu kita dalam keadaan tergesa-gesa. Pasti mau tidak mau kita menggunakan daun pisang sebagai alternatif payung.

Hal sekcil daun pisang saja berguna saat kita 'kepepet'. Banyak manfaat yang kita dapatkan jika mau dan mampu menghargai serta merawat alam dengan baik. Sekali lagi intinya, baiklah pada alam, niscaya alam akan baik dan menjadi sahabatmu di dunia ini.

Mudah-mudahan bermanfaat

Sekian

Tulungagung, 10-07-2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit