Jangan Takut Salah namun Jangan Menyalahkan

Dalam urusan salah dan menyalahkan, manusialah ahlinya. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang di nash dalam hadis sebagai makhluk yang tidak luput dari salah dan lupa. Di sisi lain, manusia pun suka sekali menyalahkan dan jarang mau disalahkan dan dikritik. Ya begitulah realitanya manusia. Menyoal tentang salah pun saya jadi teringat kisah Nabi Adam dan Siti Hawa yang diusir dari surga oleh Tuhan karena dia berbuat kesalahan. Tentu mendapatkan kisah ini kita sudah tahu dan bisa menyimpulkan kesalahan apa serta bagaimana kronologinya. Namun bukan itu titik tekannya, melainkan pada kata "kesalahan" itu yang paling penting. Dengan adanya kesalahan tersebut hadis yang disabdakan oleh Nabi Muhammad menjadi suatu hal yang benar-benar riil terjadi baik pada masa ini maupun masa lampau. Selain itu, dengan adanya kesalahan tersebut juga membuktikan bahwa firman Tuhan pada surat al Baqarah ayat 30 yang mengatakan bahwa "manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi". Jadi adanya kesalahan merupakan sudah settingan dari Tuhan untuk kepentingan relevansi sumber hukum Islam (al Qur'an dan Hadis).
Jadi kesalahan itu merupakan sesuatu yang manusiawi. Tidak ada satu manusia yang tidak pernah berbuat salah. Kesalahan yang diperbuat manusia sesungguhnya menunjukkan bahwa kodrat manusia yaituberbuat salah dan lupa. Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, "Manusia adalah tempatnya salah dan lupa." Apabila sudah diketahui bahwa kesalahan adalah manusiawi, maka menyalahkan adalah Iblisiawi (sifat Iblis). Mengapa bisa demikian? Karena Iblis itu makhluk yang pintar dan paling mulia di antara makhluk-makhluk lain, saat sebelum Nabi Adam diciptakan. Namun setelah Nabi Adam ada, posisi iblis tergeser dan Iblis merasa sombong dan merasa dirinya paling tinggi. Oleh karena itulah Iblis akhirnya diusir juga dari surga. Lalu apa bedanya dengan Nabi Adam yang diusir? Nabi Adam meski diusir karena kesalahannya tetapi dia masih mau mengakui kesalahannya dan minta maaf kepada Tuhan, sedangkan Iblis tidak. Justru Iblis malah menantang Tuhan agar Iblis dapat menggoda manusia. Sikap sombong, merasa paling tinggi dan paling benarlah yang membuat manusia mudah sekali untuk menyalahkan, menyesatkan dan bahkan mengkafirkan. Kalau sudah begitu, berarti hakikatnya dia itu manusia tapi berwatak Iblis. Istilah kerennya Iblis berwujud manusia yang selalu menggoda keimanan, kesabaran dan emosi manusia lain dengan hujatannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit