Postingan

Menjadi Bagian dari Tulungagung (lagi)

Gambar
 Oleh : Samsu Wijayanto Masih teringat 2011 lampau saya naik motor diantar saudara untuk OSPEK di STAIN Tulungagung (dulu, saat saya baru masuk). Kami berangkat dari Mojo, Kediri pagi-pagi buta. Udara masih sejuk, jalanan masih sepi dan kabut masih tampak bertebaran walau tipis. Begitulah kurang lebih suasana saat itu.  Setelah beberapa tahun berlalu, tahun 2015 saya lulus tepat waktu. Alhamdulillah, sesuai harapan dan target yang diinginkan pemerintah (tuntutan aturan bidikmisi) dan orang tua (tanggung jawab anak terhadap orang tua). Ya, meskipun nilai saya tidak sebagus dan sebaik teman-teman bidikmisi lainnya. Tapi saya cukup puas dan bangga karena menjadi satu-satunya S1 di keluarga saya. Selepas wisuda dan lulus dari UIN Tulungagung (sekarang), saya tidak sengaja masuk dunia pendidikan. Tidak salah lagi, saya mengajar di sebuah SD Negeri di kecamatan Purwasari (2016) dan di sekolah swasta MI Raudhotul Jannah (2017-sekarang). Awalnya saya merasa "ini bukan dunia saya". Na...

Ramadhan Bahan Introspeksi

Gambar
Oleh : Samsu Wijayanto Beberapa hari lalu saya membaca sebuah tulisan. Tulisan itu ditulis oleh kawan seperjuangan sewaktu kuliah dulu. Judul tulisan itu "mindful eating saat buka dan sahur". Isinya begitu ringan, rapih dan padat, hingga nyaman untuk dinikmati. Dalam tulisannya itu, saya tarik kesimpulan bahwa mindful eating sangat cocok menjadi bahan introspeksi diri. Dengan menerapkan pola tersebut seseorang akan lebih menghargai makanan. Menyantap makanan pun dengan santai, tidak tergesa-gesa, tidak apa-apa dimakan (rakus) dan makan secukupnya.  Hikmahnya, puasa ramadhan yang kita lakukan tidak berdampak buruk. Tidak ada makanan yang mubazir terbuang dan tidak juga kekenyangan. Sebab Nabi sudah mengajarkan kepada kita etika makan, "makanlah saat lapar dan berhenti sebelum kenyang." Selain itu, dengan pola mindful eating kita dapat menumbuhkan rasa syukur. Syukur atas rezeki yang telah kita dapatkan dan nikmati; dan syukur atas nikmat lapar yang kita rasakan sehi...

Konsisten itu Sulit

Gambar
 Oleh : Samsu Wijayanto Ada yang bilang menulis itu mengikat kata. Kita bisa mengikat kata dari apa yang kita baca. Bahkan tidak hanya yang kita baca, yang kita lihat, dengar dan rasa pun dapat diabadikan dengan menulis. Memang luar biasa aktivitas menulis ini. Namun tidak semua orang bisa menulis dengan konsisten dan baik. Contohnya saja saya. Ya, saya belum termasuk dalam golongan konsisten dan baik dalam menulis. Gairah menulis yang saya miliki tiba-tiba hilang dalam sekejap 4 tahun yang lalu hingga kini. Seakan menulis menjadi hal yang sulit, membingungkan dan buntu. Padahal ketika ada senggang saya menulis satu dua kalimat dalam status whatsapp atau instagram.  Saya akui, tidak seharusnya saya kehilangan gairah menulis yang telah lama saya bangun. Saya patutnya bersyukur dan bisa menjaga semangat dan gairah menulis saya. Karena saya berada dalam sebuah grup menulis yang bernama Sahabat Pena Kita Tulungagung (SPK Tulungagung). Grup ini adalah salah satu grup yang saya masu...

Memberi Karena Mengasihi

Gambar
  Oleh: Samsu Wijayanto Kemarin malam saya bersama istri dan anak jalan-jalan berkeliling menggunakan motor untuk mencari makan malam. Kala itu kami ingin Bebek goreng khas Madura langganan kami. Ketika kami sedang menunggu, tiba-tiba ada seorang ibu berusia kisaran 40an tahun menghampiri kami. "Pak, maaf minta waktunya sebentar, boleh? " Secara spontan saya langsung menebak, "pasti mau nawarin sesuatu". Dugaan saya diperkuat karena pakaian yang dia kenakan. Dia mengenakan pakaian ala SPG, tapi tetap sopan dan menutup aurat. Ketika sedang sibuk berprasangka, istri menjawab, " Iya teh ada apa?" Dia menawarkan sebuah minuman kepada kami. Saya awalnya tidak ingin beli. Tapi istri meminta saya untuk membeli. Dengan berbisik "ayah, bawa uang lebih?" Saya jawab "bawa". Akhirnya kami membelinya.  Ada satu alasan kuat yang membuat kami "terpaksa" membelinya. Keputusan kami membeli bukan karena ingin, tapi lebih karena iba. Saat SPG it...

Mengambil Hikmah dari Sebuah Ceramah

Gambar
  Oleh: Samsu Wijayanto Manusia merupakan makhluk yang tidak luput dari salah dan lupa. Sebaik apapun seseorang pasti punya salah atau dosa. Baik itu disengaja atau tidak. Begitu juga perihal lupa, sudah akrab terjadi dalam kehidupan seseorang. Mulai dari hal-hal kecil, seperti lupa menaruh uang, lupa kunci motor dan masih banyak lainnya. Bahkan saya pernah dengar ada yang lupa meninggalkan istrinya ketika selesai mengisi bensin di SPBU.  Menyoal lupa, saya teringat sebuah tausyiah seorang Ustadz saat peringatan Isra' dan Mi'raj. Beliau menyampaikan bahwa manusia memiliki 5 hal yang dicintainya hingga melupakan 5 hal penting dalam hidup beragama. Pertama, terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Kedua, terlalu mencintai hidup hingga melupakan kematian. Ketiga, terlalu mencintai rumah hingga lupa dengan alam kuburnya. Keempat, terlalu mencintai harta sampai lupa dengan hisab tentang hartanya. Dan kelima, terlalu mencintai makhluk sehingga lupa dengan Allah bahkan membu...

Konsep Syukur dalam Versi Lain

Gambar
  Oleh: Samsu Wijayanto Suatu ketika saya dan istri terlibat perbincangan yang amat seru. Kami berbincang soal rasa syukur. Dia bercerita bahwa ayahnya memiliki saudara. Sebut saja pak S. Beliau seorang yang kaya. Beliau membebaskan istri dan anaknya dalam membelanjakan uang nafkah darinya. Asalkan jelas dan tidak habis dengan sia-sia. Suatu hari pak S didatangi oleh beberapa orang berbeda yang bermaksud menagih hutang istrinya. Pak S terkejut, karena uang nafkah darinya tidak terbatas. Istrinya boleh pakai berapapun yang dia inginkan. Namun kenapa ada orang menagih hutang padanya. Setelah dikonfirmasi, ternyata betul istrinya meminjam sejumlah uang ke beberapa orang bahkan ke pinjol. Pak S pun marah dan mau tidak mau melunasi hutang-hutang istrinya. Pak S pun memberikan hukuman kepada istrinya dengan tidak boleh memakai fasilitas kendaraan seperti motor atau mobil. Uang nafkahnya pun dijatah sehari 1 juta. Mendengar cerita itu, saya tercengang. Sehari 1 juta? Itu sih jatah yang ma...

Antara Putus atau Terus

Oleh : Samsu Wijayanto Selamat pagi semuanya. Pagi ini saya akan mencoba menceritakan cerita fiksi yang sedikit banyak "related" dengan penulis. Bagaimana ceritanya? Yuk disimak! Semoga harimu bahagia. Di suatu sekolah di ujung barat pulau Jawa, ada seorang siswa bernama Abdi. Dia merupakan siswa kelas 11 (dulunya disebut kelas 2). Dia masuk jurusan IPA di sekolahnya. Namun itu bukan keinginannya. Karena kebetulan dia masuk peringkat 10 besar sewaktu kelas 10. Sedangkan peraturan di sekolahnya, bagi siswa yang mendapatkan peringkat 1 hingga 10 wajib masuk IPA. Padahal Abdi ingin sekali masuk bahasa. "Huuuft, peraturan macan apa itu. Sangat jauh dari kata demokrasi". Abdi ngedumel kala itu. Seiring berjalannya waktu, Abdi mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dia mulai bisa menerima rumitnya rumus-rumus matematika dan fisika. Ya, meskipun begitu dia tetap tidak meninggalkan hobinya. Menulis. Hobi itulah yang sudah dia lakukan dan tekuni dari sejak di ba...