Menjadi Bagian dari Tulungagung (lagi)

 Oleh : Samsu Wijayanto


Masih teringat 2011 lampau saya naik motor diantar saudara untuk OSPEK di STAIN Tulungagung (dulu, saat saya baru masuk). Kami berangkat dari Mojo, Kediri pagi-pagi buta. Udara masih sejuk, jalanan masih sepi dan kabut masih tampak bertebaran walau tipis. Begitulah kurang lebih suasana saat itu. 


Setelah beberapa tahun berlalu, tahun 2015 saya lulus tepat waktu. Alhamdulillah, sesuai harapan dan target yang diinginkan pemerintah (tuntutan aturan bidikmisi) dan orang tua (tanggung jawab anak terhadap orang tua). Ya, meskipun nilai saya tidak sebagus dan sebaik teman-teman bidikmisi lainnya. Tapi saya cukup puas dan bangga karena menjadi satu-satunya S1 di keluarga saya.


Selepas wisuda dan lulus dari UIN Tulungagung (sekarang), saya tidak sengaja masuk dunia pendidikan. Tidak salah lagi, saya mengajar di sebuah SD Negeri di kecamatan Purwasari (2016) dan di sekolah swasta MI Raudhotul Jannah (2017-sekarang). Awalnya saya merasa "ini bukan dunia saya". Namun ibu saya berkata, "Mas, mengajar dan jadi guru itu gajinya dua kali lipat". Dalam hati saya bertanya-tanya, "dua kali lipat bagaimana?". Beliau pun menambahkan, "gajinya dunia akhirat. Dari sekolah dapat dari Allah pun dapat". Benar saja, ada kebahagiaan tersendiri melihat peserta didik sekarang sudah ada yang kuliah, berprestasi dari SMP sampai SMA. Dan alhamdulillah saya masih bertahan mengajar hingga saat inTulungagung


Tahun 2025 ini, saya kembali ditakdirkan untuk menimba ilmu lagi di UIN Tulungagung. Bukan untuk mengulang S1 atau melanjutkan S2. Akan tetapi, mendapatkan kesempatan untuk mengikut programi PPG (Pendidikan Profesi Guru). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik di semua jenjang dan berbagai jurusan, seperti GKMI (Guru Kelas MI), GKRA, dan guru-guru agama. 


Sebenarnya saya tidak "expect" bakal lolos dalam seleksi pretest program PPG. Secara, saya bukan jebolan pendidikan (tarbiyah). Ibarat kata untuk mengajar mapel al-Qur'an Hadis saya hanya tahu isi materinya saja, tapi tidak dengan cara (metode) mengajar. Terlebih lagi, LPTK tempat saya menimba ilmu adalah UIN SATU. Sungguh kejutan di bulan Ramadhan. 


Namun di tengah gejolak itu semua, saya mendapatkan nasihat dari ketua yayasan, bapak KH. Juhyar, S. Pd. I, MA mengatakan "Allah tidak akan memberikan kita sesuatu jika kita memang tidak mampu dan pantas. Jika kita sudah dihadapkan pada satu hal, yakinlah Allah percaya kita bisa. Jadi jangan mundur, ragu atau takut". Mendengar nasihat beliau, saya husnudzon bahwa Allah melihat saya mampu dan bisa terlepas dari background pendidikan saya. Allah pun percaya saya pantas mengemban ini semua karena ada dua anak dan satu istri yang perlu saya nafkahi, puluhan siswa dan harus saya bina. Saya yakin program PPG ini menjadi wasilah (perantara) naiknya taraf ekonomi saya dan taraf keilmuan saya. 


Mudah-mudahan bermanfaat


Sekian 


Karawang, 13 Maret 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit