Memberi Karena Mengasihi

 

Oleh: Samsu Wijayanto

Kemarin malam saya bersama istri dan anak jalan-jalan berkeliling menggunakan motor untuk mencari makan malam. Kala itu kami ingin Bebek goreng khas Madura langganan kami. Ketika kami sedang menunggu, tiba-tiba ada seorang ibu berusia kisaran 40an tahun menghampiri kami. "Pak, maaf minta waktunya sebentar, boleh? " Secara spontan saya langsung menebak, "pasti mau nawarin sesuatu". Dugaan saya diperkuat karena pakaian yang dia kenakan. Dia mengenakan pakaian ala SPG, tapi tetap sopan dan menutup aurat. Ketika sedang sibuk berprasangka, istri menjawab, " Iya teh ada apa?" Dia menawarkan sebuah minuman kepada kami. Saya awalnya tidak ingin beli. Tapi istri meminta saya untuk membeli. Dengan berbisik "ayah, bawa uang lebih?" Saya jawab "bawa". Akhirnya kami membelinya. 


Ada satu alasan kuat yang membuat kami "terpaksa" membelinya. Keputusan kami membeli bukan karena ingin, tapi lebih karena iba. Saat SPG itu menawari kami minumannya, dia menunjukan bahwa tas yang dia bawa masih terisi banyak minuman. Berhubung istri kerja dibagian sales domestik yang mengurusi pemesanan ban ke distributor di beberapa wilayah di Indonesia, maka dia meminta saya untuk membeli. Setelah kami membelinya, istri saya bilang "ayah, kalau dia jam segini (saat itu jam 20.30) masih keliling. Berarti dia belum mencapai target. Kasian banget. Dia pasti belum dapet komisi dari pekerjaannya. Maka kita beli itung-itung nambahin target dia." Kata-kata itu membuat saya makin sama istri. Salut sekali. 


Menyoal membeli karena iba bagi kami bukanlah hal buruk. Justru kami niatkan sedekah kepada penjual. Saya dan istri punya prinsip dan pemahaman yang sama, bahwa jualan lebih baik daripada meminta-minta. Membeli barang dagangan dengan uang lebih itu lebih baik dari pada memberi kepada pengemis tapi di hati terbersit prasangka yang tidak-tidak.


Jadi jika para pembaca berniat membeli barang karena kasihan dan "Illahi ta'ala", maka insyaallah sudah terbilang sedekah. Semoga bermanfaat, aamiin. 


Sekian


Karawang, 03 Agustus 2024

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit