Konsep Syukur dalam Versi Lain
Oleh: Samsu Wijayanto
Suatu hari pak S didatangi oleh beberapa orang berbeda yang bermaksud menagih hutang istrinya. Pak S terkejut, karena uang nafkah darinya tidak terbatas. Istrinya boleh pakai berapapun yang dia inginkan. Namun kenapa ada orang menagih hutang padanya. Setelah dikonfirmasi, ternyata betul istrinya meminjam sejumlah uang ke beberapa orang bahkan ke pinjol. Pak S pun marah dan mau tidak mau melunasi hutang-hutang istrinya. Pak S pun memberikan hukuman kepada istrinya dengan tidak boleh memakai fasilitas kendaraan seperti motor atau mobil. Uang nafkahnya pun dijatah sehari 1 juta.
Mendengar cerita itu, saya tercengang. Sehari 1 juta? Itu sih jatah yang masih kebanyakan, menurut saya. Saya coba bertanya pada istri, "kalau kamu yang aku jatah sebesar itu, bagaimana?" Jawabnya sungguh sesuai harapan. "Ya aku belanjakan secukupku, dan akan banyak sisa yang aku tabungkan." Memang faktanya istri saya orang yang bijak dan baik dalam mengelola keuangan. Alhamdulillah. Jadi saya percaya jika dia berkata demikian.
Intinya, dalam percakapan di atas saya katakan pada istri bahwa rasa syukur akan mendatangkan keikhlasan. Sedangkan syukur itu tidak hanya tentang apa yang kita dapatkan, tapi menjaga apa yang sudah kita miliki itu termasuk syukur. Entah saya tiba-tiba mendapat kata-kata demikian dalam otak saya.
"Kalau kita kerja lalu mendapatkan kerjaan ektra atau jam lembur, tapi kita dibayar sama lalu kita menuntut dan meminta hak apakah itu namanya tidak bersyukur, yah?" Istri saya bertanya. Saya jawab, "kalau memang kasusnya demikian, seharusnya setiap keringat dari hasil kerja harus bayar tuntas. Sebab ada keluarga yang harus dinafkahi. Urusan syukur itu sejalan dengan hak yang sesuai." Mendengar jawaban tersebut istri terlihat agaknya kurang bisa menerima opini saya. "Apapun yang kita dapatkan memang harusnya diterima karena hakikatnya adalah pemberian dari Allah. Tapi kadang, ini disalah gunakan oleh para pemimpin, atasan, ketua yayasan atau kepala sekolah untuk memberikan upah sangat minim kepada tenaga pendidik. Sedangkan mereka punya keluarga dan kebutuhan pun kian melonjak. Ini namanya dzolim." Saya lihat lagi ekspresi muka istri dari kaca spion. Terlihat mulai bisa menerimanya.
Diakhir percakapan kami, saya minta ke dia ke istri. "Doakan ayah supaya bisa jadi pemilik usaha atau bos yang bijak dan tidak dzolim kepada karyawan." Kami aminin bersama di atas motor.
Mudah-mudahan bermanfaat
Sekian
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar