Mengambil Hikmah dari Sebuah Ceramah
Oleh: Samsu Wijayanto
Manusia merupakan makhluk yang tidak luput dari salah dan lupa. Sebaik apapun seseorang pasti punya salah atau dosa. Baik itu disengaja atau tidak. Begitu juga perihal lupa, sudah akrab terjadi dalam kehidupan seseorang. Mulai dari hal-hal kecil, seperti lupa menaruh uang, lupa kunci motor dan masih banyak lainnya. Bahkan saya pernah dengar ada yang lupa meninggalkan istrinya ketika selesai mengisi bensin di SPBU.
Menyoal lupa, saya teringat sebuah tausyiah seorang Ustadz saat peringatan Isra' dan Mi'raj. Beliau menyampaikan bahwa manusia memiliki 5 hal yang dicintainya hingga melupakan 5 hal penting dalam hidup beragama. Pertama, terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Kedua, terlalu mencintai hidup hingga melupakan kematian. Ketiga, terlalu mencintai rumah hingga lupa dengan alam kuburnya. Keempat, terlalu mencintai harta sampai lupa dengan hisab tentang hartanya. Dan kelima, terlalu mencintai makhluk sehingga lupa dengan Allah bahkan membuat-Nya terduakan. Jika ditarik dalam ilmu tasawuf, kelima poin di atas harus dihindari agar bisa mendapatkan dan mencapai tingkatan Zuhud.
Zuhud adalah melepaskan dari pengaruh dunia. Segala hal yang berbau duniawi sesungguhnya fana' (tidak kekal, tidak abadi). Suatu saat bisa hilang. Lambat lain juga bisa rusak. Oleh sebab itu, sebagai manusia bukan kita yang dipengaruhi dunia tapi kitalah yang mempengaruhi/mengendalikan dunia.
Kenyataannya kita akan selalu bersinggungan dengan hal-hal duniawi. Seberapa keras pun kita menolaknya, dunia akan selalu mengiringi kita. Namun sepertinya definisi Zuhud di atas perlu kita kaji lebih dalam agar bisa "related" dengan kehidupan kita. Mengambil konsep Zuhud dari Imam Al-Ghazali. Beliau menyatakan bahwa zuhud bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah dari pada apa yang ada di tanganmu.
Kesimpulannya kita hidup untuk dua tempat, yaitu dunia dan akhirat. Selayaknya manusia kita harus mengusahakan agar bisa hidup dengan baik dan bahagia di dunia. Sedangkan sebagai seorang hamba, kita harus tetap mengutamakan akhirat agar kelak mendapatkan ridlo dan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin
Mudah-mudahan bermanfaat
Sekian

Komentar
Posting Komentar