Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Bolehkah Mengaplikasikan Hadis Daif (Lemah)?

Oleh: Samsu Wijayanto "Hei, kamu kok melakukan itu. Itu kan hadisnya dloif. Hati-hati". Beberapa waktu lalu, saat saya vakum menulis saya mendapat teguran demikian. Saya ditegur karena melantunkan puji-pujian "Allahumma bariklana fi rajaba, wa sya'bana wa balighna Ramadhana" di masjid dekat rumah. Dia bukan orang sekitar sini, alias musafir yang entah dari mana dan baru pulang kerja dari sebuah pabrik. Karena saya tidak ingin ada keributan di masjid, akhirnya saya akhiri pujian tersebut lalu lekas ikamah. Setelah selesai salat, saya dekati orang yang menegur saya tadi. Saya berterima kasih atas tegurannya. Saya pun bertanya, "maaf pak, apakah puji-pujian saya tadi mempengaruhi sah atau tidaknya salat?" Dia menjawab, "tidak". Saya bertanya lagi, "apakah puji-pujian tadi mengandung unsur akidah atau tauhid?" Jawabnya pun tetap, "tidak". Akhirnya saya perjelas dan jabarkan semua yabg saya tahu agar tidak ada kesalah pahaman. ...

Sejarah Pesantren di Indonesia

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Apabila kita berbicara mengenai pesantren di Indonesia khususnya di tanah Jawa, maka tidak akan lepas dari sejarah Jawa sebagai pusat sistem pendidikan pesantren dicanangkan pertama kali di Indonesia. Jika memang benar tanah Jawa itu pusat sistem pendidikan pertama di Indonesia, mari kita buktikan. Sebelum Indonesia merdeka, telah kita ketahui bahwa Indonesia dipenuhi dengan berbagai macam kerajaan-kerajaan. Kerajaan yang berdiri di tanah Jawa mayoritas beragama hindu. Sehingga tanah Jawa ramai akan budaya, peradaban, keilmuan sampai dengan peperangan. Runtuhnya kerajaan-kerajaan di tanah jawa, sedikit banyak meninggalkan suatu system yang sangat penting yaitu sistem pendidikan pondok pesantren. Menurut Karel A. Steenberink peneliti asal Belanda berpendapat, bahwa sistem pendidikan pondok pesantren yang berkembang saat ini berasal dari dua tradisi yaitu pertama dari tradisi Hindu dan kedua dari tradisi dunia Islam dan Arab itu sendiri. Pendapat pertama menyataka...

Hikmah Mencintai Nabi: Meringankan Siksa Kubur

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Dalam ajaran umat Islam nabi dan rasul yang wajib diketahui ada 25. Dari ke-35 nabi yang wajib ada beberapa nabi yang memiliki gelar "Ulul Azmi", yakni nabi-nabi yang memiliki ketabahan yang luar biasa. Mereka adalah nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad SAW. Kelima nabi di atas pun hanya ada satu yang paling mulia dengan mukjizat yang luar biasa, yaitu Nabi Muhammad SAW dengan mukjizatnya kitab suci Al-Qur'an. Bukan bermaksud mengerdilkan nabi dan rasul yang lain, semua nabi dan rasul semuanya mulia. Namun hanya nabi Muhammad lah yang paling mulia di antara semuanya. Tidak hanya karena al-Qur'annya, melainkan adanya Nash yang berbunyi “Jika bukan karenamu (Nabi Muhammad) , Jika bukan karenamu, tiadalah aku ciptakan Aflak (alam semesta).” Bayangkan, betapa berpengaruhnya beliau hingga tanpa kehadiran beliau akan ini tidak akan tercipta. Oleh karena itu, kita sebagai umatnya patut bersyukur atas kehadiran beliau dan bangga menjadi umatnya. Car...

Sikap Makmum Ketika Imam Lupa Menambah Rakaat Solat

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto "Pernah tidak kalian salat berjamaah lalu imam lupa jumlah rakaat solat? Harusnya rakaat sudah sempurna 4, malah nambah satu, menjadi 5 rakaat." Kasus ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri, manusia akan dan pernah melakukan salah dan lupa. Sebab, hakikatnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Jadi wajar jika manusia melakukan kesalahan dan kelupaan. Sekali pun manusia itu seorang Imam salat yang alim (orang yang mengerti), lupa pasti tidak akan luput darinya. Dalam berbagai sumber, khususnya kitab kuning (klasik) menyebutkan bahwa tata cara mengingatkan Imam ketika lupa dibagi menjadi dua. Pertama, dalam kitab "Syarah Fathul Qarib", bagi makmum laki-laki hendaklah membaca "subhanallah" dengan niat berdzikir. Bukan untuk sengaja mengingatkan. Jika sengaja maka solat makmum dianggap batal. Kedua bagi makmum perempuan, mengingatkan dengan cara menepuk tangan kiri bagian atas dengan telapak tangan kana...

yang Penting Nulis Vs Nulis yang Penting

Oleh: Samsu Wijayanto Sekilas keduanya tampak serupa. Ya, hanya membolak-balik kata saja. Namun maknanya sangat berbeda. Itu yang sering menjebak dan menjadi pikiran penulis seperti saya, apakah tulisan saya hanya yang penting nulis? Ataukah saya menulis yang penting?  Pertama mengenai "yang penting nulis". Susunan kata tersebut sesungguhnya menjelaskan keasal-asalan seseorang dalam menulis. Bisa jadi hanya nulis sekedar nulis. Tanpa bobot, hanya berputar-putar dan tanpa refrensi yang jelas bahkan sama sekali tidak memberikan manfaat. Kedua tentang "menulis yang penting". Menulis penting merupakan aktivitas yang tidak mudah. Tidak asal nulis. Sebab, harus sistematis, refrensi yang jelas dan mudah dipahami lagi membawa manfaat. Jika itu semua sudah terpenuhi (menurut saya) insyaallah akan menjadi tulisan yang penting dan jadi pertimbangan.  Dalam prakteknya, saya sendiri belum sepenuhnya bisa menulis yang penting. Saya seringkali menulis dari apa yang saya baca, deng...