Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Hukum Merayakan Muludan

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Malam ini adalah malam dimana masuknya tanggal 12 Rabiul Awal. 12 Rabiul Awal menjadi tanggal bersejarah bagi umat manusia. Ya, lahirnya Nabi Muhammad SAW. Nabi terakhir dan paling mulia menurut umat Islam. Oleh karena itu seyogyanya umat Islam pasti merasa senang dan gembira. Dalam menyikapi kegembiraan ini, bermacam cara dilakukan. Beberapa orang merayakan dengan ramai, mendirikan panggung, mendatangkan penceramah, dan bersolaeat bersama. Sebagian yang lain merayakan dengan sederhana, hanya bersolawat di masjid masing-masing dan mendengarkan pengajian, lalu makan-makan. Ada juga yang justru menyalahkan dan/atau membid'ahkan kedua kegiatan di atas. Perdebatan mengenai perayaan hari kelahiran Nabi alias maulidan atau muludan sudah terjadi sejak lama. Penyelesaiannya pun sudah lama terjawab. Jika ditanya mengapa merayakan? Sedangkan Nabi tidak menyuruhnya. Jawab saja, "apakah Nabi melarangnya?" Itu sebenarnya sudah beres dan selesai. Hargai setiap jaw...

Renungan Pasca Jagongan: Say No to Minder

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Semalam, tepatnya Senin malam 26 Oktober 2020 pengasuh grup SPK yakni prof Ngainun Naim mengajak kami (para anggota) dalam sebuah pertemuan. Pertemuan itu kami beri nama jagongan literasi. Beliau membagikan link zoom untuk kami masuki. Akhirnya saya (sebagai anggota) pun masuk untuk mengikuti jagongan menarik tersebut. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya jagongan pun dimulai. Jujur, awal saya masuk sudah merasa aneh dan asing. Sebab, saat saya perhatikan ternyata yang mengikuti jagongan tersebut tidak hanya dari grup SPK, melainkan dari umum pun turut serta meramaikan jagongan tersebut. Keren memang grup yang saya ikuti ini. Dengan literasi ternyata bisa menambah relasi. Saya tidak hanya belajar dan tambah wawasan, tapi juga bertambah teman. Alih-alih ingin menambah relasi, justru makin kesini saya minder dan tidak percaya diri. Banyak faktor yang membuat saya minder, salah satunya adalah yang ikut jagongan ini merupakan orang hebat, produktif dan sudah memil...

Masa Kecil yang Terselamatkan

 Oleh: Samsu Wijayanto Ada yang masih ingat lagu mama bolo-bolo yang dinyanyikan oleh Tina Toon? Adakah juga yang ingat lagu diobok-obok airnya yang dinyanyikan oleh Joshua? Dan ingatkah lagu-anak-anak lainnya semasa kita kecil dulu. Yang masih ingat saya sarankan bersyukurlah. Mengapa bersyukur? Karena saat seseorang ingat lagu-lagu itu, maka sudah tentu dia pernah mendapati, mendengarkan bahkan hafal lagu-lagu tersebut. Tapi yang perlu disyukuri adalah seseorang yang mendapati lagu-lagu tersebut masa kecilnya terselamatkan. Ya, melihat realita anak-anak saat ini saya merasa kasihan dan ngenes. Tumbuh kembang anak dewasa ini disuguhi dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan usianya. Sebagai contoh begini, anak sekarang bila kita tanya "hafal lagu apa dek?" Pasti rata-rata akan menjawab serupa, yaitu lagu-lagu dewasa bergenre pop atau dangdut yang berlirik percintaan atau sejenisnya. Mengapa demikian itu terjadi? (Pasti pertanyaan seperti itu akan muncul). Ya karena anak-anak ...

Catatan Duka: Kehilangan yang Mendalam

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Pagi tadi saya dikejutkan dengan berita duka. Berita tersebut mengabarkan bahwa salah satu kyai tempat saya menimba ilmu di Ploso wafat. Beliau adalah KH. Fuad Mun'im Djazuli. Beliau merupakan putra keempat dari KH. Ahmad Djazuli Usman (pendiri pondok pesantren Al Falah, Ploso). Adanya berita duka ini tentu membuat sedih para santri, khususnya alumni yang pernah 'ngangsu kaweruh' dari beliau. Awalnya saya tidak yakin dengan berita tersebut. Tapi setelah saya cek ulang status 'whatsapp' teman-teman alumni Ploso, ditambah lagi grup alumni begitu ramai. Barulah saya percaya dan yakin beliau telah berpulang. Berita itu ramai tersebar di media sosial sejak pagi. Sekitar jam 6 pagi. Mengetahui berita tersebut, sesak memang rasanya dada ini. Bayangkan, setiap sore saya beserta santri lain selalu istiqomah menanti kehadiran beliau untuk memaknai kitab. Sekarang, suara beliau yang sedang membaca kitab tidak akan terdengar lagi saat sore. Adanya berita i...

Tulislah Ingatanmu, Sebelum Namamu Tertulis sebagai Ingatan di Batu Nisan

Oleh: Samsu Wijayanto Hari ini tidak ada sesuatu yang menarik untuk dituliskan. Aktivitas hanya itu-itu saja. Pagi ke sekolah untuk memberikan tugas daring, siang jumatan, sore mengajar les privat dan malam istirahat. Kurang lebih aktivitas saya tiap hari seperti itu. Oleh karena itu, saya memilih menulis sebagai obat kejenuhan. Sebab dalam menulis saya secara tidak langsung melakukan dua hal penting. Pertama menambah wawasan lewat membaca. Kedua mengikatnya dengan tulisan. Mengapa menulis itu penting? Menulis menjadi penting karena keterbatasan ingatan manusia. Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan di blog prof Ngainun Naim. Judulnya "Banyak Membaca Banyak Lupa." Meski dalam tulisan beliau dikatakan bahwa itu hanya guyonan atau candaan. Namun ada benarnya. Ketika seseorang mengisi sesuatu ke dalam otak, maka lambat laun akan terlupakan. Baik karena tertumpuk ingatan lain atau karena faktor usia yang menyebabkan kinerja otak melemah. Nah, disinilah peran penting menuli...

Fenomena Writer's Block: Hadapi! Bukan Berhenti!

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Menjadi seorang penulis bukan hak yang mudah. Selain tidak mudah, menulis juga bukan aktivitas yang banyak digemari oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang lebih memilih hobi yang seru dan menyenangkan seperti bermusik, olahraga atau bermain game. Namun seru dan menyenangkan setiap orang berbeda-beda. Orang yang senang bermusik tidak bisa dipaksakan senang menulis, begitupun sebaliknya. Orang yang senang menulis tidak bisa dipaksakan untuk senang bermusik. Seru dan senang adalah soal rasa. Tidak bisa diatur apalagi dipaksa. Bagi kita yang menyukai atau menggiati aktivitas menulis, pasti pernah mengalami kendala yang sama, yakni "writer's block" atau kebuntuan menulis. Kebuntuan menulis bisa terjadi pada pemula atau yang sudah terbiasa. Kendala ini muncul bukan tanpa sebab. Menurut kak Meutia Azzura, seorang pengiat menulis kreatif sekaligus bekerja di salah satu brand produk sebagai penulis iklan brand mengatakan "ada empat faktor penyebab adany...

Hikmah Jagongan: Jawaban atas Kekhawatiran

Gambar
 Oleh: Samsu Wijayanto Menulis rutin setiap hari bukan hal yang mudah. Ada beberapa kendala yang akan dirasa, baik oleh pemula ataupun yang sudah biasa. Salah satunya kebingungan akan nulis apa besoknya karena khawatir tidak ada ide untuk menulis besok. Jujur, keresahan ini saya rasakan. Kebetulan Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung mengadakan jagongan, ngobrol santai seputar menulis via aplikasi zoom. Akhirnya saya utarakan keresahan saya pada pakarnya, Prof. Dr. Ngainun Naim. Beliau adalah dosen sekaligus motivator saya dalam menulis, dari sejak kuliah hingga sekarang. Saya mendapatkan jawaban yang mencerahkan. Beliau mengatakan, "jangan khawatir ga ada ide untuk menulis besok. Banyak hal yang bisa ditulis. Bisa hal sepele yang kita temui tiap harinya. Tidak perlu sesuatu yang istimewa. Menulis kegiatan atau hal yang ditemui tiap hari pun sudah cukup untuk mengasah dan melatih menulis. Intinya menulis jangan sampai membebani tapi dinikmati." Setelah mendapat jawaban itu, se...

Mulan: Mendobrak Batasan dan Ketidakadilan terhadap Perempuan

Gambar
 Oleh: Samsu Wijayanto "Gadis itu menjadi seorang prajurit. Prajurit itu menjadi pemimpin. Pemimpinnya menjadi seorang legenda." Kalimat di atas merupakan narasi yang diucapkan narator di akhir film Mulan. Ya, petang tadi saya baru saja menonton film itu. Film itu sebenarnya dirilis awal tahun ini, hanya saja saya baru tahu di bulan Agustus dan baru sempat mendownload dan menonton petang tadi. Oiya, film ini sudah pernah ditayangkan, namun masih berbentuk animasi di tahun 1998. Keduanya adalah film hasil produksi dari Disney. Karena saya nontonnya Mulan yang rilis pada tahun 2020 dan versi manusia, maka yang akan saya bahas adalah Mulan (2020). Ada beberapa hal yang menurut saya menarik untuk dibahas. Pertama background poster, pakaian dan akhir film adalah warna merah. Pilihan warna ini bukan tanpa alasan. Ada hubungan antara warna merah dengan isi dari film itu. Kedua pesan moral film itu. Ketiga film ini tidak ada darah sedikitpun meski film perang. Film Mulan bercerita te...

Pretty Boys : Mengejar Isi, Bukan Sensasi

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Beberapa hari lalu saya nonton sebuah film berjudul "Pretty Boys". Pretty Boys merupakan film yang tayang di bioskop pada 19 September 2019. Film ini disutradarai oleh dr. Tompi. Ini adalah pengalaman pertama untuknya sebagai sutradara, mengingat dia adalah seorang dokter, musisi dan pegiat literasi di narasi tv yang digagas oleh Najwa Shihab. Ini juga pengalaman pertama bagi para host acara tonight show di net TV. Lebih mengejutkannya, Najwa Shihab ikut ambil bagian dalam film ini. Sungguh kejutan. Namun meski semua pengalaman pertama, tidak membuat film ini kehilangan substansinya. Justru dengan adanya kolaborasi dr. Tompi, Najwa Shihab dan para aktor serta aktris yang serius membuat film ini menjadi fresh dengan 'guyonan' tipis dan tetap berbobot.  Film ini menceritakan tentang dia orang pemuda yang mengacu nasib di Jakarta untuk menjadi sukses. Sukses menurut mereka adalah dapat meraih apa yang diimpikan oleh mereka. Impian mereka satu, yakni...