Rumah Tanpa Ibu

 Oleh: Samsu Wijayanto


Umumnya keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Berapa pun jumlah anak dalam sebuah keluarga, ayah dan ibu menjadi hal paling utama dalam keluarga. Bahkan adanya keduanya menjadi tolok ukur sebagai keluarga bahagia, terlepas apakah kehidupan mereka bahagia atau sebaliknya.


Ayah dan ibu memiliki peran yang sangat penting dan masing-masing saling melengkapi. Ayah berperan memastikan "dapur tetap ngebul", menjaga keamanan dan keselamatan istri dan anaknya serta menjadi panutan dan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Sedangkan ibu berperan menjaga kehormatannya, menjaga harta bendanya dan mendidik generasi penerusnya menjadi anak-anak yang baik secara amal, moral dan akal. Namun di jaman sekarang, peran di atas bisa saling membatu dan mengisi.


Lalu, bagaimana jika dalam sebuah rumah tidak ada peran ibu?


Jawabannya hampa, dingin dan terasa sekali ada yang hilang. Jawaban ini dilontarkan oleh istri saya ketika kami berkunjung ke rumah orang tua saya. Ibu saya sudah tiada sejak tanggal 1 Maret 2023 lalu. Saat kami (saya, istri dan anak) berkunjung, istri merasakan hawa yang berbeda saat memasuki rumah. Biasanya kami disambut dengan teriakan, "wah ada aa Hilmi". Teriakan itu begitu hangat terdengar buat saya dan istri. Teriakan itu tidak lagi ada. Bahkan ketika masuk ke kamar ibu pun rasanya dingin dan senyap. Padahal di ruang tamu ramai suara televisi.


Hawa dingin dan sepi tidak hanya dirasakan oleh saya. Adik-adik dan ayah saya pun merasakan hal yang sama. Mereka bercerita bahwa sangat jauh berbeda tanpa ibu di rumah. Ayah saya lebih sering di luar rumah untuk berjualan ketimbang di kamar. Ayah berangkat jualan dari setelah subuh, pulang hampir larut malam. Kalau di kamar, katanya suka teringat ibu. Ya, namanya juga berpisah, pasti sakit dan rasanya seperti ada yang hilang. Apalagi berpisah karena kematian.


Dalam perjalanan pulang, saya dan istri masih ngobrol soal ibu. Inti dari obrolan kami, kami sepakat bahwa ibu adalah sosok luar biasa yang bisa berperan dalam banyak hal. Selain menunaikan tugas dan perannya sebagai ibu, ibu bisa dan mampu berperan sebagaimana ayah. Ibu bisa bekerja (menjadi tulang punggung), berpolitik, ngurus anak, bersih-bersih rumah, menyusui dan beraktivitas lain dalam satu waktu, dan masih banyak lagi. Bagiku itu hal yang keren.


Jadi selagi ibu masih ada, silakan berbakti sepuasnya. Berbincang selama mungkin dengannya. Habiskan banyak waktu bersamanya. Sewaktu ibu tiada, baru terasa kehilangannya. Doakan ibu yang sudah tiada. Berdermalah atas namanya, agar kebaikan terus mengalir untuk ibu.


Mudah-mudahan bermanaat


Sekian



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit