R.A Kartini: Memaknai Peringatan Hari Kartini dengan Literasi
Oleh: Samsu Wijayanto
Hidup umat manusia tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas literasi. Mulai dari pendidikan hingga keagamaan, semuanya melibatkan aktivitas literasi. Pendidikan berliterasi dengan bacaan ilmu pengetahuan, kegamaan pun berliterasi dengan kitab suci yang ada dalam agama tersebut. Ya, meskipun sesungguhnya literasi tidak melulu berkaitan tentang membaca, menulis dan buku. Namun, membaca merupakan hal mendasar bagi aktivitas literasi.
Menyoal literasi, tokoh perempuan bernama R.A Kartini adalah salah satu yang terkuat. Beliau begitu gencar menyerukan pentingnya baca tulis bagi rakyat Indonesia saat itu, khususnya kaum perempuan. Pemikirannya yang maju dan melek terhadap literasi baca tulis bagi perempuan tidak mulus begitu saja. Kaum laki-laki pada saat itu menganggap bahwa R.A Kartini keblinger (tersesat) karena terlalu maju. Mereka pun mengklaim tidak ada gunanya baca tulis dan belajar bagi perempuan, toh akhirnya perempuan akan kembali ke sumur, dapur dan kasur. Tentu hal itu membuatnya geram dan makin menjadi-jadi dalam menyerukan literasi, tanpa peduli apapun halangannya.
Dibalik orang-orang yang kontra terhadap R.A Kartini, tentu juga ada yang pro. Salah satu orang yang sangat mendukung gerakan literasi beliau adalah Raden Mas Pandji (RMP) Sosro Kartono. Beliau merupakan kakak R.A Kartini. Kakak beradik ini memang gila terhadap literasi baca tulis. Adiknya gila membaca, kakaknya gila menulis. Saking gilanya Beliau (Sosro Kartono) pernah menjadi wartawan pada saat perang dunia 1, sehingga namanya dikenal di Eropa. Beliau pernah berpesan kepada adiknya, "ketika jasadku terbelenggu/terpenjara, jangan biarkan pikiranmu terpenjara pula. Bebaskan pikiranmu dengan membaca".
Dengan jasa beliau inilah R.A Kartini mendapat julukan pahlawan perempuan dan sebagai salah satu tokoh emansipasi wanita di Indonesia. Menyetarakan bahwa perempuan juga memiliki peran untuk mendapatkan fasilitas pendidikan, menduduki jabatan dan mendapatkan ruang publik untuk berkarir. Sederhananya R.A Kartini bercita-cita kaum perempuan memiliki jiwa yang mandiri dan bebas dari budaya patriarki yang menganggap perempuan itu rendah (pada saat itu). Jadi kurang etis jika peringatan Hari Kartini hanya direpresentasikan dengan memakai kebaya bagi perempuan. Sebab Kartini tidak hanya sebatas fisik atau fashion, tapi jauh melampaui itu. Kartini harus ditunjukan dengan hati dan pikiran. Hati yang kuat dengan segala prinsip yang dipegangnya, kuat melawan budaya patriarki dan pikiran yang bebas dengan adanya kebebasan pendapat dan suaranya didengar oleh kaum laki-laki.
Mudah-mudahan bermanfaat
Sekian
Karawang, 21 April 2021

Komentar
Posting Komentar