Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Hikmah Merenung: Antara Cemburu dan Mendua

Gambar
Oleh: Samsu Wijayanto Setiap orang memiliki cemburunya masing-masing. Ada yang cemburu karena pasangannya terlalu asyik dengan hobinya, asyik dengan pekerjaannya, bahkan asyik dengan orang lain. Cemburu hadir secara mengalir. Bukti bahwa dia cinta dan ingin fokusnya tidak terbagi. Jadi cemburu tidak salah dan orang yang cemburu tidak bisa disalahkan. Cemburu memang tidak salah, akan tetapi jangan berlebihan. Berlebihan merupakan sesuatu yang dibenci Tuhan. Seseorang yang cemburunya berlebihan cenderung akan mengekang dan membuat pasangannya tidak nyaman. Cemburu boleh, asal sewajarnya. Menyoal cemburu, tidak hanya manusia yang mengalaminya. Tuhan pun punya rasa cemburu terhadap hamba-Nya. Dalam ajaran Islam, Allah tidak suka disekutukan (diduakan). Orang-orang yang menyekutukannya disebut dengan syirik. Allah akan murka dengan orang yang syirik. Cemburunya Allah bukan semata, Dia ingin disembah atau dicintai. Namun Allah mengajarkan kepada kita tentang kesadaran balas budi. Allah yang ...

Menghargai Sebuah Prinsip

Oleh: Samsu Wijayanto  Setiap manusia memiliki prinsip dan keteguhan atas apa yang dia yakini. Sebagai manusia yang berbudi, tidak elok jika memandang remeh, menghalangi dan memaksa seseorang keluar dari prinsip atau keteguhan hatinya. Di karawang, kebanyakan orang (tidak semua) berpandangan bahwa kerja di Karawang, mendapat gaji besar hanya bisa masuk dengan menggunakan uang. Tidak sedikit jasa dibidang ini bertebaran di Karawang. Jasa ini dibalut dengan lembaga yang dinamana LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Adanya LSM di Karawang bukan rahasia lagi. Orang dari berbagai daerah yang ingin berkiprah di dunia kerja khususnya di PT di Karawang pasti tidak lepas dari soal uang. lebih parahnya, sampai ada statemen "kerja zaman sekarang apalagi di Karawang kalau tidak pakai uang ga akan mungkin di terima, walaupun nunggu sampai tua." Mendengar langsung kata-kata ini rasanya sungguh miris. Sadar atau tidak, sengaja atau tidak sebenarnya tindakan tersebut merupakan suap. Bukankah su...

Pentingnya Membaca Sebelum Bicara

Oleh: Samsu Wijayanto Bicara atau ngomong merupakan aktivitas yang dikuasai oleh setiap orang. Siapapun bisa bicara sesuai keinginannya. Bisa memakai bahasa Indonesia, bahasa daerah atau bahasa asing. Bicara pun bisa dilakukan kepada siapa saja, baik yang sudah lama dikenal ataupun orang yang baru ditemuinya diperjalanan. Namun tidak semua orang memiliki mental yang baik untuk berbicara. Ada beberapa yang masih terbata karena gugup, ada juga yang lancar-lancar saja karena memang sudah terbiasa. Berbicara itu ada seninya. Semua orang mungkin bisa berbicara. Tapi tidak semuanya bisa berbicara di depan umum sesuai dengan keinginannya, lalu tertata bahasanya dan tidak gugup. Selain itu, jika berbicara dengan orang yang kompetitif, harus hati-hati. Karena dia tidak akan mau kalah dan cenderung membatah dan mendebat apa yang kita katakan. Entah topiknya berat atau ringan. Tetap saja dibantahnya. Hal di atas saya rasakan betul. Selama beberapa hari kemarin saya berada di Tulungagung. Saya men...

Catatan Perjalanan: Penampilan bukan Segalanya, tapi Perlu

Gambar
 Oleh: Samsu Wijayanto Sore ini, saya menyaksikan seorang penjual oleh-oleh di dalam bis. Dia menjajakan dodol Garut dan keripik kentang khas Bandung (katanya). Namun bukan soal barang jualannya yang jadi poin penting pembahasan tulisan ini. Melainkan, bagaimana cara dia menjajakan dagangannya. Sebelum itu, saya sekarang ini sedang berada disebuah bis menuju Tulungagung. Ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Sehingga saya bertemu dengan penjual oleh-oleh itu. Kembali ke topik Dalam menjajakan dagangannya, penjual menyampaikan kata pembuka yang tidak biasa. Selain dia meminta maaf telah menganggu kenyaman perjalanan, dia juga menerangkan barang dagangannya. Tidak hanya itu, dia pun lengkap mendeskripsikan masing-masing barang dengan lancar tanpa berbelit. Bahasa yang digunakan pun ringan dan lengkap dengan kalimat persuasinya. Namun sayang, meski menjajakan barang dengan bahasa dan cara yang menarik orang-orang kurang berminat. Setelah saya amati ternyata kekurangannya ada p...

Hikmah Ngobrol: Belajar dari Nandang "Si Tangan Ga Bisa Diem"

Gambar
 Oleh: Samsu Wijayanto Pagi tadi sekitar pukul 9 saya mengantarkan rekan sesama guru untuk mengikuti rapat di sebuah sekolah. Tidak jauh dari sekolah tersebut, saya melihat penjual capcin (cappucino cincau). Saya merasa tidak asing dengannya. Setelah diliat dari dekat ternyata dia adalah salah satu mantan karyawan orang tua saya dulu ketika jualan es teh poci. Nandang namanya. Singkat cerita kami berdua ngobrol di lapaknya. Kami ngobrol panjang, mulai dari keadaan jualan, tanya kabar keluarga saya dan begitu juga sebaliknya. Namun dari semuanya, ada hal menarik yang saya tangkap. Dia membeli gitar listrik seharga 2 juta, lalu datang corona. Akhirnya gitar itu dibongkar olehnya. What? Saya melongo mendengarnya. Ketika masih bekerja dengan orang tua, dia termasuk orang yang terampil. Istilah lainnya "tangannya ga bisa diem". Dia suka menggambar, memahat kayu menjadi suatu bentuk bahkan sampah kertas pun dia sulap menjadi sesuatu. Nah, ketika dia bercerita tentang gitar listrikn...